Google info dan internet online
Tampilkan postingan dengan label abu hurairah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abu hurairah. Tampilkan semua postingan

19 Mei 2012

Kematian Abu Hurairah dan keturunannya yang masih selamat postheadericon


    Kematian Abu Hurairah berlaku di istana dekat Abiq. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah di mana anak-anak ‘Uthman bin ‘Affan (Khalifah ketiga) mengusung kerandanya ke maqam al-Baqi‘ sebagai balasan terhadap penghormatannya kepada bapa mereka. Salat jenazahnya dipimpin oleh al-Walid bin ‘Utbah bin Abi Sufyan, gabenor Madinah, karena Marwan dipecat. Al-Walid memimpin salat jenazahnya selepas mendirikan salat ‘Asr bersama-sama orang ramai. Mereka yang hadir terdiri dari Ibn ‘Umar, Abu Sa‘id al-Khudri dan yang lain-lain seperti mereka.

    Al-Walid kemudian menulis kepada bapa saudaranya, Mu‘awiyah, seorang khalifah memberitahunya  tentang kematian Abu Hurairah dan dia membalas balik: “ Carilah orang-orang yang masih ada dan bayarkanlah mereka 10 000 dinar. Jagalah kaum kerabatnya dan berbuat baiklah dengan mereka, karena dia merupakan salah seorang yang membantu ‘Uthman dan bersama-sama dengannya dalam rumahnya.

    Kematiannya berlaku pada tahun 57 atau menurut sumber lain 58 manakala yang lain-lain menyebutkan 59 Hijrah pada usianya 78 tahun.

    Di antara kaum kerabatnya yang masih ada yang kami ketahui ialah anaknya, Muharrir bin Abu Hurairah dan anak perempuannya yang dia selalu sebutkan: “ Bapaku tidak membenarkanku memakai emas karena takutkan api neraka.” Diketahui juga bahwa Muharrir mempunyai seorang anak bernama Naim. Dialah yang menceritakan tentang datuknya bahwa dia memiliki tali dengan 1000 biji manik dan dia tidak akan tidur kecuali dia menyebutkan mengenainya.

    Diceritakan juga darinya bahwa seseorang bertanya kepada Nabi (s.‘a.w): “ Berilah nasihat kepadaku tentang apa yang patut aku tukarkan?” Nabi (s.‘a.w) berkata: : Kamu patut berurusan dalam urusan pakaian karena ia menggembirakan penjual kain bahwa orang ramai patut berpakaian cantik dan mengikut stail moden.”

    Ibn Sa‘d telah menyebutkan Muharrir dalam kitabnya, Tabaqat dan menunjukkan susurgalur keturunannya yang berkait dengan Dus. Dia mati semasa pemerintahan ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz. Dia sangat sedikit meriwayatkan hadith.

Beberapa perkara baru tentang Abu Hurairah postheadericon

(1) Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Musnadnya , sebuah riwayat Abu Hurairah  menerusi Muhammad bin Ziad yang berkata: Ketika Marwan menjadi gabenor di Madinah dalam zaman kekuasaan Mu‘awiyah, biasanya dia melantik Abu Hurairah menjalankan kewajibannya. Kemudian Abu Hurairah biasanya menghentakkan kakinya dan melaungkan: “ Sila beri laluan, sila beri laluan, gabenor datang, gabenor datang.”

(2) Ibn Qutaibah al-Daynawari telah menceritakan dalam kitabnya, al-Ma‘arif  mengenai Abu Hurairah dari Abu Raf‘i yang berkata: Marwan menlantik Abu Hurairah melaksanakan kewajibannya sebagai gabenor di Madinah. Dia kemudian akan  menunggang kaldai dengan meletakkan pelana keras dan menutup kepalanya dengan pelepah tamar. Sekiranya dia berjumpa seseorang, dia akan berkata: “ Tolong beri jalan, gabenor datang.” Kadang-kala dia melintasi kanak-kanak yang sedang bermain permainan gagak pada waktu malam. Mereka tidak dapat melihat sesuatu sehinggalah dia berada di khalayak mereka. Kemudian dia akan menghentakkan kakinya. Diceritakan juga oleh Ibn Sa‘d  dalam kitab Tabaqat,  mengenai Abu Hurairah dari beberapa sumber.

(3) Abu Nu‘aim menceritakan dalam kitabnya, Hilyat al-Awliya’,  mengenai Abu Hurairah dengan sumbernya sampai kepada Tha‘labah bin Abi Malik al-Qarzi yang menceritakan: Abu Hurairah muncul di pasar membawa seikat kayu yang dijunjung di atas kepalanya sedangkan pada masa itu dia sedangkan menjalankan kewajiban sebagai pengganti Marwan, lalu dia melaungkan: “berilah laluan untuk gabenor, wahai Ibn Abi Malik.” Aku berkata kepadanya: Ini dah cukup untukmu.” Dia berkata sekali lagi: “ berilah laluan kepada gabenor,” dan ikatan kayu itu berada di atas kepalanya.
 
(4) Abu Nu‘aim turut menceritakan dalam Hilyat al-Awliya’,  mengenai Abu Hurairah menerusi Ahmad ibn Hanbal, dari Abi ‘Ubaidah Haddad, dari ‘Uthman al-Syahham dari farqad al-Sabkhi yang menceritakan: “ Abu Hurairah sedang melakukan Tawad sambil berkata:  “ Celakalah perutku ini, apabila aku memenuhkannya, ia menyusahkanku dan apabila aku mengosongkannya ia mencelakakanku.”

(5) Al-Zamakhsyari menceritakan dalam kitabnya, Rabi‘ al-Abrar bahwa Abu Hurairah biasanya mengatakan: “ Ya Allah, kurniakanlah gigi yang dapat mengunyah, perut yang hadam dan isi perut atau usus yang mudah kosong.”

(6) Dalam kitab yang sama, diceritakan bahwa Abu Hurairah suka akan Muzirah. Muzirah ialah sejenis makanan yang disediakan bersama susu yang menjadikannya masam. Justeru, biasanya dia makan bersama-sama Mu‘awiyah, tetapi apabila sampai waktu salat, dia akan mendirikan salat yang diimamkan ‘Ali (‘a.s). Apabila ditanyakan kepadanya dikatakan: “ Muzirah Mu‘awiyah sungguh enak dan indah sedangkan salat di belakang ‘Ali (‘a.s) memberikan pahala yang lebih.” Oleh karena alasan inilah, dia dikenali Syaikh al-Muzirah. Cerita ini menunjukkan bahwa Abu Hurairah ada dalam Perang Siffin, tetapi dia tetap mempertahankan keputusan yang tidak memihak di antara kedua-dua kumpulan dengan dua wajah dan dua lidah, yang bertujuan agar dia tidak memudaratkan dirinya untuk pergi kepada parti atau kumpulan yang menang pada akhirnya. 

    Masih terdapat satu tempat di antara Syria dan ‘Iraq berdekatan Siffin, sebuah binaan yang dikenali sebagai tempat Abu Hurairah. Orang ramai menceritakan bahwa sepanjang beberapa hari dalam Perang Siffin, Abu Hurairah  biasanya menunaikan salat bersama orang-orang ‘Ali (‘a.s), sementara makan pula bersama-sama Mu‘awiyah  dan ketika peperangan bertambah hebat, dia akan pergi ke kawasan berbukit yang berhampiran. Apabila ditanya mengenainya dia berkata: ‘Ali lebih mengetahui (alim), manakala Mu‘awiyah pula lebih selamat.”

(7) Abu Nu‘aim menceritakan dalam kitabnya,  Hilyat al-Awliya’ dari Abu ‘Uthman al-Nahdi bahwa pada suatu ketika, Abu Hurairah dalam perjalanan ketika orang ramai berhenti dan bersedia menyiapkan makanan. Mereka mencari Abu Hurairah yang sedang sibuk menunaikan salat. Lalu dia berkata: “ Aku berpuasa.” Ketika mereka hampir selesai, dia pun datang dan mulai makan. Orang ramai melihat kepada Rasulullah (s.‘a.w) yang berkata: “ Kenapakah kamu melihatku. Dia telah memberitahuku bahwa dia berpuasa.” Justeru Abu Hurairah berkata: “ Dia benar. Aku terdengar Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Berpuasa pada seluruh bulan Ramadan ditambahi berpuasa 3 hari dalam setiap bulan menjadikan seseorang seolah-olah berpuasa sepanjang masa,” dan aku telah berpuasa 3 hari dalam bulan itu. Lantaran itu, aku makan sebagai mengurangkan kesukaran dari Allah dan sedang berpuasa untuk menambahkan limpah rahmat dari-Nya.”

(8) Al-Bukhari telah menceritakan dalam kitab Sahihnya  dari Muhammad bin Sirin, dan demikianlah juga Abu Nu‘aim telah menceritakan dalam kitabnya, Hilyat al-Awliya’,  bahwa: “ Kami bersama-sama Abu Hurairah dan dia berpakaian dengan dua helai, diperbuat dari kain dari tumbuhan rami yang dengannya dia gunakan untuk membersihkan hidungnya. Kemudian dia berkata: “ Alangkah gembiranya Abu Hurairah sedang membersihkan hidungkan dengan kain tumbuhan rami, biarpun kamu telah menyaksikanku berdengkur di tempat antara mimbar Nabi (s.‘a.w) dan rumah ‘A’isyah sedangkan sesiapa pun boleh datang dann meletakkan kakinya ke tengkukku karena percaya aku gila. Sebenarnya ia bukanlah karena gila tetapi lebih karena kelaparan.”

(9) Perkara baru mengenainya adalah dia biasanya bermain sidr sejenis permainan. Ibn al-Athir menulis tentang pengertiannya dalam kamus besarnya, al-Nihayah seperti berikut: Seseorang telah dikatakan menceritakan: “ Aku lihat Abu Hurairah bermain Sidr…” Kemudian dia menambahkan: “ Sidr ialah sejenis permainan melibatkan perjudian…” Kamus besar, Lisan al-‘Arab turut memberikan  pengertian yang sama kepada perkataan tersebut dengan tambahan bahwa terdapat sebuah hadith oleh Yahya ibn Abi Kathir mengenainya hingga dikatakan: “ Sidr merupakan permainan syaitan yang lebih ringan bermaksud bahwa ia perbuatan syaitan.” 

(10) Berbicara mengenai pengertian Aqrab dalam kitab Hayat al-Hayawan, al-Damiri menyatakan bahwa ia permainan “ syatranj ” (catur) sambil menambahkan bahwa Saluki menceritakan ia sah dari ‘Umar ibn al-Khattab, khalifah kedua, Abu Basr serta Abu Hurairah, manakala Abu Hurairah bermain permainan ini sudah lumrah diketahui  dalam kitab-kitab hukum Islam. Dia juga turut mengatakan bahwa Ajiri telah menceritakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Sekiranya kamu melintasi orang-orang yang sedang bermain dengan permainan catur dan silap mata, jangan berikan salam kepada mereka.” 

Sekilas pandang tentang kebaikan Abu Hurairah postheadericon

Kami telah meneliti semua kitab hadith yang mu‘tabar untuk mencari kemuliaan Abu Hurairah sekiranya ada diriwayatkan oleh Nabi (s.‘a.w), tetapi malangnya kami tidak menemui sesuatu kecuali Abu Hurairah sendiri sebagaimana dapat dilihat dengan jelas dari contoh berikut.
    Pengarang kitab al-Isti‘ab mengatakan sesuatu mengenainya: Abu Hurairah menganuti Islam pada tahun berlakunya Perang Khaybar, mengambil bahagian dalam perang itu bersama-sama Nabi (s.‘a.w) dan kemudian merapatkan diri selamanya dengan Rasulullah (s.‘a.w) bukannya karena cintakan ilmu, sekadar berpuashati hanya untuk mengisi perutnya. Justeru, tangannya biasanya berada pada tangan Rasulullah (s.‘a.w) dan dia biasanya pergi bersama baginda ke mana saja baginda pergi. Dia merupakan orang yang paling kuat ingatan di kalangan semua sahabat Nabi (s.‘a.w). Dia hadir mendengar Nabi (s.‘a.w) karena tiada orang lain di kalangan semua Muhajirin dan Ansar hadir, karena golongan Muhajirin sibuk dalam mengejar perniagaan sedangkan golongan Ansar pula melibatkan diri dalam perniagaan harian. Nabi (s.‘a.w) sendiri menyaksikan bahwa dia mengingini ilmu dan hadith seperti dikatakannya kepada baginda: “Wahai Rasulullah (s.‘a.w) Aku telah mendengar banyak hadith darimu dan aku bimbang mungkin aku lupa.” Nabi (s.‘a.w) berkata kepadanya: “ Bentangkanlah pakaianmu.” Aku lalu membentangkannya dan Nabi (s.‘a.w)  menggerakkan tangan baginda ke atasnya dan kemudian berkata: “ Gulungkanlah ia.” Selepas itu, aku tidak lupa segala sesuatu.

    Kelebihan-kelebihan ini dan yang lain-lain sepertinya  merupakan kandungan (teks) hadith-hadith yang Abu Hurairah sendiri ceritakan dan kita tidak pula dapat mencari mana-mana autoriti untuknya kecuali dirinya sendiri. Perkara yang sama juga membabitkan semua aspek yang diceritakan darinya sebagaimana kebanyakan ulama sudah pun sedia maklum.

    Marilah kita menganalisis kenyataan tersebut. Oleh karena Abu Hurairah menganuti Islam dalam tahun berlakunya Perang Khaybar,  ia dibuktikan menerusi riwayat-riwayat selain dari dirinya sendiri, namun begitu sama ada Abu Hurairah mengambil bahagian dalam peperangan tersebut bersama-sama dengan Rasulullah (s.‘a.w) , kami tidak pula temuinya diriwayatkan oleh mana-mana orang yang lain selain dari Abu Hurairah saja, dan para cendikiawan dan ilmuan yang telah menjelaskan dakwaannya yang mengakui kehadirannya dalam peperangan itu dengan cara yang berbeza-beza.

    Dalam persoalan dia mendekatkan diri kepada Nabi (s.‘a.w) dan terus berada di situ bukannya karena cintakan pengetahuan dan merasa puas dengan hanya mengisi perutnya dan tangannya dalam genggaman tangan Nabi (s.‘a.w), oleh yang demikian dia akan pergi ke mana saja Nabi (s.‘a.w) pergi, inilah perkara yang Abu Hurairah dakwakan tetapi pemberatan untuk membuktikan kesahihannya tergantung kepadanya. Dalam hubungan ini, dia berkata: “ Aku datang ke Madinah sementara Nabi (s.‘a.w) pula di Khaybar, dan pada masa itu aku berusia lebih 30 tahun. Justeru aku tinggal dengannya sehingga baginda wafat. Biasanya aku bergilir-gilir dengannya dalam rumah isteri-isterinya. Aku bekerja sebagai orang suruhannya, aku berperang  dalam peperangan bersama dengannya dan melakukan haji dengannya. Aku mengatasi semua manusia dalam ilmu mengenai hadith-hadithnya. Demi Allah, terdapat orang yang bersama dengannya lebih awal berbanding denganku, tetapi setelah mengetahui keakrabanku dengannya biasanya mereka menanyakanku tentang hadith-hadithnya. Mereka termasuklah ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali (‘a.s), Talhah, Zubair …… “ dan lain-lain.

    Sikap Abu Hurairah yang tidak sedikit pun merasa malu meriwayatkan hadith seperti itu benar-benar memeranjatkan, karena ia jelas sekali berlawanan dengan kenyataan dan jauh sekali dari kebenaran, tetapi bagi mereka yang benar-benar mengetahui fakta tersebut akan mengetahui bahwa dia tidak meriwayatkan hadith itu pada zaman para sahabat terdahulu, ulama dan anggota-anggota masyarakat yang penting. Hanya selepas kematian hampir semua sahabat itu dan penaklukan bumi yang lain seperti Syria, ‘Iraq, Mesir, Afrika dan Iran ketika sebilangan besar sahabat berkurangan sementara bilangan orang muslim di kawasan yang dikuasai bertambah dan mereka tidak pernah mengetahui sesuatu pada zaman Nabi (s.‘a.w), lalu Abu Hurairah memberanikan diri dengan mulai meriwayatkan hadith. Cara ini sebenarnya merupakan masa ketika kebanyakan pendusta mendapati diri mereka berada bersama di alam yang baru di mana hanya beberapa orang saja mengetahui kedudukan pada zaman awal Islam. Mereka mendapati orang ramai di persekitaran yang baru hanya bersetuju saja dengan mereka dan menerima sebagai suatu ibadat apa saja yang mereka dengar dari mereka. Ini adalah karena pada pandangan kumpulan baru ini, para pendusta tersebut mewakili kumpulan terakhir dari kalangan sahabat besar Nabi (s.‘a.w) yang dikatakan pemelihara segala perbuatan dan pemegang amanah perutusan baginda (s.‘a.w) yang baik, yang karena itu bertanggungjawab kepada penyebarannya. Pada masa yang sama, pemerintahan Bani Umaiyyah mengabadikan segala usaha untuk menyokong mereka dan dalam keadaan inilah ia menggalakkan mereka untuk menceritakan segala bentuk hadith yang salah dan tidak dapat dibuktikan, walaupun hadith itu mungkin bercanggah dengan hukum-hakam Islam atau tidak dapat diterima akal, ataupun penuh dengan kekejian atau pendustaan, karena ia bersesuaian dengan tujuan dan perintah dalam polisi mereka yang zalim karena mereka menjadikan agama Allah sebagai dalih atau helah, menganggap semua makhluk Allah sebagai pengikut setia mereka manakala harta Allah sebagai hak milik mereka. Dengan cara ini, kumpulan pendusta ini memberikan khidmat sebagai alat pemerintah jahat dan zalim ini. Di pihak mereka  pula, para pemerintah tersebut menaungi dan dan membantu mereka dengan  menggunakan pelbagai cara menerusi kekuasaan mereka yang zalim itu secara berleluasa. Ini karena para pendusta tersebut terbukti menjadi anggota yang berkhidmat kepada mereka, yaitu sebagai lidah kepada tuntutan mereka dan mata kepada semua perancangan mereka yang dapat dilihat. Jelaslah bahwa orang-orang seperti inilah yang dikatakan oleh al-Qur’an sebagai:

“ Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “ Ini dari Allah.”    

    Demi Allah, seseorang yang memberikan perhatian secara serius akan merasa hairan tokoh-tokoh hadith yang terkemuka seperti al-Bukhari, Muslim, Ahmad ibn Hanbal dan lain-lain dalam kelompok yang sama, yang menggunakan akal fikiran untuk mengkaji tetapi kemudian tunduk akur seperti orang-orang yang bisu dan bebal berhadapan dengan apa yang Abu Hurairah  dan lain-lain yang seumpama mereka inginkan. Terlalu banyak persoalan menjelma dalam benak fikiran di sini. Contohnya, adakah mereka mempunyai keberanian untuk mengetahui bila ‘Ali (‘a.s), ‘Umar, ‘Uthman, Talhah, Zubair dan lain-lain dari kalangan tokoh-tokoh terdahulu pernah bertanya sesuatu kepadanya? Adakah persoalan yang mereka tanyakannya pada masa jaga, tidur atau dalam keadaan khayal? Apakah pula hadith yang mereka tanyakan? Siapakah lagi selain dari Abu Hurairah telah meriwayatkan perkara tersebut mengenai mereka? Pengarang kitab terkemuka manakah telah menyebutkan nama salah seorang dari mereka yang meriwayatkan dari Abu Hurairah walaupun sebuah hadith sekalipun? Bilakah pula mereka bergantung kepada riwayatnya?

    Kenyataannya adalah bahwa kami tidak pernah mendapatinya meriwayatkan (hadith) semasa mereka masih ada, atau dia berani menyampaikan riwayat di hadapan mereka. Di satu pihak lagi, mereka biasanya merendah-rendahkan kedudukannya dan seringkali pula mendustakannya sebagaimana yang telah dibicarakan dengan panjang lebar dalam halaman-halaman terdahulu.  

    Marilah kita terus menganalisis petikan dari kitab al-Isti‘ab. Berkenaan dengan kenyataannya bahwa Abu Hurairah  merupakan tokoh yang paling kuat hafalan di kalangan semua sahabat Nabi (s.‘a.w), ia hanya diambil dari hadithnya yang terdahulu: “ Aku merupakan orang yang paling mengetahui hadith dari sekalian orang.” Berhubung mengenai keterangan, “ dia hadir  mendengar Nabi (s.‘a.w) karena tiada seorang pun dari kalangan golongan Muhajirin dan Ansar menghadirkan diri…” ia diambil dari riwayat yang dia kemukakan mengenai pembentangan kainnya dan persoalan tersebut telahpun dibincangkan dengan panjang lebar untuk menunjukkan kepalsuannya.

    Berkenaan dengan kenyataannya bahwa Nabi (s.‘a.w) sendiri menyaksikan bahwa dia suka akan ilmu dan hadith adalah diambil dari keterangan Abu Hurairah sendiri: Aku kata, Wahai Rasulullah (s.‘a.w), siapakah orang yang bernasib baik diberikan syafa‘atmu? Baginda membalas: “ Ketika aku memperhatikan keinginanmu kepada hadith, aku fikir tidak ada orang lain kecuali engkau berada dalam kedudukan yang baik untuk menanyakan soalan ini.” Ia telah diceritakan oleh al-Bukhari dalam kitab Sahihnya menerusi al-Maqbari dari Abu Hurairah. Ibn Hajar turut memasukkannya ke dalam kitabnya, al-Isabah merujuk kepada Abu Hurairah. Turut sama diceritakan dalam kitab yang sama bahwa Abu Hurairah biasanya berkata: “ Aku tetap berada bersama Nabi (s.‘a.w)  selama 3 tahun ketika tiada seorang pun kecuali aku yang amat suka akan hadith-hadith dari baginda.”

    Sebagaimana yang telah diperlihatkan dalam halaman-halaman terdahulu, keistimewaan-keistimewaan yang didakwanya itu termasuklah seperti berikut:

•    Bekas bekal (Mizwad) yang darinya seramai lebih dari 200 orang dapat makan.
•    Hambanya yang dibebaskan atas nama Allah.
•    Dua buah bekas ilmunya, salah satunya dia bukakan manakala yang kedua dia tidak bukakannya.
•    Doa Nabi (s.‘a.w) untuknya dan untuk ibunya.
•    Dia berjalan di atas air sehingga melintasi seluruh teluk tanpa dibasahi air walaupun sebelah kaki.

Dilihat dari analisis setiap keistimewaan tersebut yang dikemukakan dalam halaman-halaman sebelumnya, seseorang sudah tentu akan ketawa dan menangis pada masa yang sama. Dalam keadaan yang amat menyedihkan ini kita hanya dapat mengucapkan ayat al-Qur’an berikut:

“ Inna li-Llah wa inna ilaihi raji‘un (Dari Allah kita datang kepada Allah pula kita kembali).”

. Beberapa mu‘jizat Nabi (s.‘a.w) yang menakjubkan postheadericon

Mu‘jizat Nabi (s.‘a.w) yang hakiki membingungkan bukan saja orang yang bijaksana dengan cahaya kebenarannya dan mengalahkan para penzalim yang besar di bumi ini dengan kecemerlangan sifat tabi‘inya dan penerimaan kejadian itu hingga menyebabkan mereka menundukkan kepala mereka dalam keadaan mengaku kalah dan mengakui kebesarannya.
   
    Di sini ada beberapa contoh mu‘jizat:

(1) Ketika Nabi (s.‘a.w) mengutuskan ‘Ali (‘a.s) ke Yaman, baginda menepuk dada ‘Ali (‘a.s) dengan tangan baginda sambil berkata: “ Ya Allah, berilah petunjuk kepada hatinya dan perkukuhkan lidahnya.” ‘Ali (‘a.s) telah menceritakan bahwa selepas itu beliau tidak teragak-agak membuat keputusan di antara dua kumpulan.

(2) Ketika Allah mewahyukan ayat: “ agar diperhatikan oleh telinga yang mendengar,”  Nabi (s.‘a.w) mengatakan kepada ‘Ali (‘a.s): “ Aku memohon Allah menjadikannya pada telingamu.” ‘Ali (‘a.s)  telah menceritakan bahwa selepas itu beliau tidak lagi terlupa segala sesuatu dan bagaimana dapat beliau lupa? 

(3) Pada peristiwa Khaybar, ‘Ali (‘a.s) memegang panji-panji, Nabi (s.‘a.w) berkata: “ Ya Allah, perkuatkanlah dia terhadap kepanasan mahupun kesejukan.” ‘Ali (‘a.s) berkata: “ Selepas dari itu, keadaan panas ataupun sejuk tidak lagi memberikan masalah kepadaku.” Pada hakikatnya, selepas itu ‘Ali (‘a.s) biasanya keluar pada musim sejuk dengan dua helai pakaian, sehelai kain dan selimut manakala pada musim panas pula dengan baju panjang luar yang agak tebal, memperlihatkan kebenaran mu‘jizat Nabi (s.‘a.w) dan meninggalkan kesan yang berkekalan. Keterangan ini diberikan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnadnya, juga oleh Ibn Abi Syaibah, Ibn Jarir dan lain-lain dan diakui benar dalam kitab Muntakhab Kanz al-‘Ummal pada bahagian tepi kitab Musnad oleh Imam Ahmad ibn Hanbal.  

(4) Ketika Jabir mengadu kepada Nabi (s.‘a.w) mengenai hutang bapanya, dia pergi bersama-sama dengannya ke kawasan pembantingannya dan berpusing mengelilinginya sambil berdoa mengharapkan kemurahan di dalamnya. Kemudian dia  duduk di sana dan para pemiutang juga turut datang ke sana. Baginda membayar semua hutang kepada mereka sementara bakinya masih ada untuk Jabir dalam jumlah yang sama dengan apa yang mereka kutip itu.

(5) Apabila Rasulullah (s.‘a.w) berkehendakkan kebaikan kepada seseorang, baginda akan berdoa untuknya, dan sekiranya berkehendakkan keburukan baginda akan memohon keburukan untuknya sebagaimana baginda lakukan terhadap Mu‘awiyah ketika baginda bersabda: “ Allah tidak akan memenuhkan perutnya, atau sebagaimana baginda lakukan terhadap Hakam bin Abi al-‘As.

    Dalam mana-mana keadaan, kita tidak dapati mana-mana perbuatan Nabi (s.‘a.w) seperti yang pernah dilaporkan oleh Abu Hurairah yang terlalu jauh dari kebijaksanaan baginda yang begitu terserlah yang darinya, mata orang yang sesat turut memperolehi cahaya, dan darinya mercu ketinggian petunjuk biasanya muncul, seperti menyelesaikan kesukaran yang membingungkan dan menyimpangkan diri menerusi lorong-lorong kegelapan dan kejahilan.   

Protes Abu Hurairah terhadap orang-orang yang menyalahkannya postheadericon

Abu Hurairah biasanya memprotes terhadap orang-orang yang mendustakannya atau mencari kesalahannya. Dia berkata: Orang ramai berkata bahwa Abu Hurairah terlalu banyak menyampaikan riwayat, hanya kepada Allahlah tempat kembali. Mereka juga mengatakan bahwa golongan Muhajir dan Ansar tidak meriwayatkan seperti mana dirinya. Apa yang pasti saudara-saudaraku di kalangan Muhajirin biasanya menghabiskan masa berjualbeli di pasar manakala saudara-saudaraku di kalangan Ansar pula melibatkan diri dalam hartabenda mereka. Di pihak yang lain pula, aku tidak punya apa-apa dan senitasa bersama-sama Nabi (s.‘a.w)  sekadar untuk mengisi perutku. Oleh itu, aku hadir sedangkan mereka pula tidak hadir dan aku menghafal sedangkan mereka pula terlupa, dan pada suatu hari Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Tidak ada seorang pun di antaramu harus menggulungkan kainnya sehingga aku menghabiskan ucapanku ini kemudian dia hendaklah menyimpannya dalam dadanya agar dia lupa segala kata-kataku itu.” Justeru aku membentangkan pakaian bercorak karena aku tidak mempunyai pakaian lain sehinggalah  Nabi (s.‘a.w) selesai mengucapkan kata-katanya, kemudian aku menyimpannya dalam dadaku. Lantaran itu, demi Dia yang mengutuskannya dengan kebenaran, aku tidak lupa segala sesuatu dari kata-katanya sehingga ke hari ini. Demi Allah, bagaimanapun bagi dua ayat al-Qur’an aku tidak akan sekali-kali menceritakan sesuatu kepadamu, yaitu:

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”   

    Apa yang pasti, Abu Hurairah terpaksa memperlihatkan hadith ini untuk menentang orang-orang yang mendustakannya dalam kedua-dua perkara berkaitan bilangan hadith dan juga kandungan (kualiti) hadith tersebut. Namun apa yang jelas ini merupakan hadith palsu yang paling buruk dan jauh menyimpang dari kebenaran. Tidaklah perlu ia diberikan perhatian sama sekali namun pada hakikatnya kedua-dua orang tokoh hadith besar telah memasukkannya sebagai hadith yang sahih dengan senang hati, begitu jelas sekali berdasarkan kepada pegangan mereka yang menganggap baik tentang sahabat secara keseluruhan walaupun dengan melakukan demikian, mereka jelas sekali berlawanan dengan logic dan bahkan keadilan itu sendiri. Terdapat beberapa perkara pokok untuk menggolongkan hadith itu sebagai hadith palsu:

    Pertama: Abu Hurairah mengandaikan bahwa jual dan beli di pasar menjauhkan golongan Muhajirin dari Nabi (s.‘a.w) sementara penglibatan golongan Ansar pula dalam urusan hartabenda mereka menjadikan mereka berada dalam keadaan seperti itu juga. Namun demikian, apakah pula nilai pendapat ini di hadapan ayat al-Qur’an yang cukup jelas dan ketara ini yang menyebutkan:

“ Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jualbeli dari mengingati Allah.”

Malang sekali kenyataan yang sengaja diada-adakan bahwa Abu Hurairah mengatakan dia biasanya tetap bersama-sama di sisi Nabi (s.‘a.w) ketika ketua dan pemimpin lain tidak hadir, dan dia mengatakan demikian tanpa sedikit pun penyesalan atau sanggahan karena pastinya, dia melakukannya pada zaman Mu‘awiyah ketika pada masa itu, ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali (‘a.s), Talhah, Zubair, Salman, ‘Ammar, Miqdad, Abu Dhar dan lain-lain dari kalangan kelompok tersebut telah tidak ada lagi. Sememangnya dia telah mengatakan sesuatu yang besar. Alangkah jauhnya persoalan tersebut dari reality? Orang ramai sudah sedia mengetahui perhubungan di antara kedudukan ‘Ali (‘a.s)  dengan Nabi (s.‘a.w) yaitu hubungan darahnya, keluarbiasaannya, sentiasa bersama-sama dengan Nabi (s.‘a.w) dalam ketenteraan semenjak masih kanak-kanak, Nabi (s.‘a.w) mendakapkannya ke dadanya, menempatkannya di tempat tidurnya agar menyentuhi tubuhnya supaya ‘Ali (‘a.s) dapat menciumi bauan kenabiannya, dan Nabi (s.‘a.w) biasanya mengunyahkan sesuatu lalu memberi ‘Ali (‘a.s) makan. Justeru, tidak ditemui sebarang bentuk pendustaan dalam kata-katanya atau kekurangan dalam perbuatannya. Allah juga telah menempatkan ‘Ali (‘a.s) dari segi akhlak dan budi pekerti yang hampir sama dengan Nabi (s.‘a.w), sementara ‘Ali (‘a.s) pula biasanya mengikuti Nabi (s.‘a.w) seperti seekor anak unta mengikuti langkah ibunya. Nabi (s.‘a.w) pada setiap hari mengangkat kedudukannya semakin lama semakin tinggi dalam ilmu dan akhlak, dengan memerintahkannya mengikuti jejak langkahnya. Pada masa-masa tersebut, hanya terdapat dua orang saja yaitu ‘Ali (‘a.s) dan Umm al-Mu’minin Khadijah sentiasa berada bersama-sama dengan Rasulullah (s.‘a.w). Justeru itu, ‘Ali (‘a.s) menyaksikan cahaya wahyu  dan menciumi haruman kenabian baginda. Sebagai tambahan kepada keistimewaan-keistimewaan tersebut, beliau juga merupakan pintu ilmu Rasulullah (s.‘a.w), pemberi hukum yang terbaik di kalangan manusia muslim, penyimpan rahsia Rasulullah (s.‘a.w), pewaris kekuasaan baginda, pengganti kepimpinan baginda, pengelak segala kebimbangan Nabi (s.‘a.w), pemilik pendengaran yang sentiasa sedar, pemilik khazanah ilmu dalam kitab Allah. Adakah mungkin orang yang mempunyai keperibadian seperti ini  melupakan sebarang perbuatan atau perkataan Rasulullah (s.‘a.w.)  yang dikatakan dipelihara oleh Abu Hurairah dalam ingatannya, ataupun beliau menyembunyikan segala sesuatu sedankan Abu Hurairah pula mendedahkannya. Sesungguhnya ini merupakan tuduhan yang amat berat.

Lanjutan dari itu juga, di kalangan golongan Muhajirin, hanya terdapat sedikit saja bilangan orang yang melibatkan diri dalam jualbeli di pasar. Sebagai contoh, mereka ialah Abu Dhar, Miqdad, ‘Ammar dan 70 orang ahli Suffah yang merupakan sahabat Abu Hurairah dan seperti yang telah disebutkannya, tidak pernah memiliki sehelai kain pun pada diri mereka sedangkan dia sendiri memiliki kedua-duanya, kain cawat dan juga selimut. Bagaimana mungkin dapat diterima akal kebanyakan mereka tidak meriwayatkan hadith-hadith sampai ke tahap seperti Abu Hurairah lakukan atau sampai ke tahap keterlaluan sama seperti yang dilakukan Abu Hurairah. Sebenarnya, jumlah keseluruhan hadith mereka jauh lebih sedikit berbanding hadith-hadith yang secara khusus diriwayatkan Abu Hurairah seorang diri.

Keadaan yang sama juga berlaku kepada golongan Ansar. Kebanyakan mereka bukanlah orang berada dan berharta, seperti Abu Hurairah andaikan itu. Di kalangan mereka ada yang langsung tidak memiliki apa-apa seperti Salman al-Farisi yang dikatakan oleh Rasulullah (s.‘a.w): “ Salman ialah dari kami, Ahl al-Bait,” dan telah dicatatkan mengenainya dalam kitab al-Isti‘ab, bahwa Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Sekiranya agama itu berada di bintang Surayya, Salman akan dapat mencapainya.” Sementara itu sekali lagi dalam kitab al-Isti‘ab, ‘A’isyah mengatakan sesuatu mengenainya: “ Pada suatu malam Nabi (s.‘a.w) mengizinkan Salman seorang diri mendengarnya sedemikian lama hingga dibimbangi dia mungkin mengatasi yang lain.” Selanjutnya, menurut kitab al-Isti‘ab lagi, ‘Ali (‘a.s) mengatakan sesuatu mengenai dirinya: “ Pasti, Salman seumpama Luqman al-Hakim karena dia memiliki keilmuan masa silam dan masa depan. Dia merupakan lautan ilmu yang tidak pernah ketandusan.” Berhubung dengan dirinya juga, Ka‘b al-Ahbar mengatakan seperti yang dicatatkan dalam kitab al-Isti‘ab: “ Salman penuh dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan…..” dan orang ramai sudah sedia mengetahui bahwa Abu Ayyub al-Ansari tidak memiliki sebarang harta duniawi, kecuali sepasang selipar, untuk menjauhkannya dari ilmu atau perbuatan-perbuatan yang saleh. Kedudukan yang sama  terdapat pada diri Abu Sa‘id al-Khudri, Abu Fadl al-Ansari dan tokoh-tokoh lain seumpama mereka yang kesemuanya di kenali termasuk di kalangan tokoh ilmuan dan pemimpin golongan Ansar.

    Perlu juga diingat bahwa masa Nabi (s.‘a.w) bukanlah dihabiskan begitu saja, tetapi setiap masa baginda, sama ada siang atau malam diperuntukkan untuk perkara-perkara tertentu dengan teratur. Oleh itu, untuk tujuan menyampaikan ilmu baginda telah tetapkan masa tertentu yang tidak bertembung dengan urusan berjualbeli di pasar ataupun masa-masa melibatkan urusan hartabenda. Dengan demikian, golongan Muhajirin dan juga Ansar tidak pernah menggagalkan diri untuk hadir pada masa itu karena mereka benar-benar memerlukan ilmu bukan seperti yang dibayangkan oleh orang-orang yang berfikiran cetek.

    Kedua, sekiranya Nabi (s.‘a.w) mengatakan sesuatu kepada para sahabatnya bahwa sesiapa yang membentangkan kain mereka sehingga selesai kata-kataku dan sebagainya …. Adalah benar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Abu Hurairah, sudah tentulah mereka akan melompat ke atasnya dengan penuh semangat, karena penghormatan tidak boleh diperolehi semata-mata dengan melakukan perjalanan atau ilmu boleh dijamin hanya dengan menghabiskan wang. Lebih dari itu, apakah yang ada di sana untuk menghalangi  mereka dari mencapainya atau menghentikan mereka dari membentangkan kain mereka untuk mengejarnya?  Kenapakah mereka mengelakkan diri dari melakukan demikian karena ia samalah seperti menjauhkan diri dari mencari ilmu dan menyembunyikan sesuatu  yang Nabi (s.‘a.w) mengajak mereka kepadanya. Sudah pasti, ia bukanlah demikian dan kita tidak dapat fikirkan demikian mengenai mereka, khususnya karena mereka semua memang bersemangat mengikuti perintah Rasulullah (s.‘a.w)  dan mengejar apa saja yang baginda seru kepadanya.

    Ketiga,  sekiranya riwayat Abu Hurairah itu memang benar, para sahabat sewajarnya bertaubat dan menyesal dengan begitu sekali karena mencuaikan diri untuk mencapai kemuliaan yang sangat besar dan memperolehi ilmu yang begitu banyak. Kekecewaan mereka akan berpanjangan karena kegagalan membentangkan kain mereka kepada Nabi (s.‘a.w)   walaupun tiada masalah atau usaha diperlukan untuk melakukannya. Sebenarnya mereka sudah sepatutnya mempersalahkan satu sama lain dan meletakkan kesalahan kepada satu sama lain karena memilih untuk tidak melakukannya. Pada masa yang sama, mereka sepatutnya merasa cemburu terhadap Abu Hurairah karena kejayaannya mengatasi mereka biarpun sebenarnya dia hanya mempunyai sehelai kain saja sementara tiada seorang pun di kalangan mereka yang memiliki dua helai kain atau lebih. Oleh karena kita tidak pernah bertembung dengan sesuatu seperti itu, ia menunjukkan dengan jelas bahwa seluruh cerita atau riwayat ini merupakan cerita rekaan Abu Hurairah.

    Keempat,  sekiranya benar apa yang diceritakan oleh Abu Hurairah, orang lain yang Nabi (s.‘a.w) turut sampaikan kata-kata baginda dalam kejadian membentangkan kain mereka itu harus turut menyampaikan riwayat tersebut. Sebenarnya mereka patut menganggap cerita itu sebagai salah satu tanda kenabian, lambing kemuliaan Islam dan bukti yang menyokong agama itu. Cerita atau riwayat mengenainya tentulah tetap berlanjutan dan mereka pasti menjadikannya terang benderang seumpama matahari di siang hari. Oleh karena perkara itu tidak pernah wujud, kita hanya dapat menganggapkannya sebagai rekaan Abu Hurairah.

    Kelima, terdapat kepelbagaian dalam riwayat tentang kejadian ini oleh Abu Hurairah sendiri. Menurut keterangan A‘raj yang kelihatan dalam Sahih al-Bukhari,  Abu Hurairah meriwayatkan bahwa  Nabi (s.‘a.w) bersabda pada suatu hari kepada para sahabat baginda: “ Tidak wajar bagi setiap seorang dari kamu membentangkan kainnya sehingga kata-kataku ini berakhir dan kemudian membungkuskanya ke arah dadanya agar dia tidak lupa sesuatu dari kata-kataku itu.” Justeru, aku membentangkan kain bercorakku karena aku tidak mempunyai kain yang lain selain darinya sehingga Nabi (s.‘a.w) mengakhiri kata-kata baginda dan aku membungkuskannya ke dadaku. Demi Dia yang mengutuskannya dengan kebenaran, sampai ke hari ini aku tidak lupa sesuatu dari kata-kata baginda itu.

    Di tempat yang lain pula seperti dicatatkan oleh al-Maqbari, dia meriwayatkannya seperti berikut:  Aku berkata, wahai Rasulullah (s.‘a.w), aku mendengar sebuah hadith darimu dan aku terlupa mengenainya.” Kata baginda: “ Bentangkan kain selimutmu.” Kemudian dia gerakkan tangan di atasnya, lalu berkata: “ Bungkuskanlah.” Aku membungkuskannya, dan  selepas dari itu aku tidak lagi terlupa.

    Kini, menurut bentuk riwayat yang diberitahu oleh A‘raj, perkara itu berlaku di antara Nabi (s.‘a.w) dan para sahabatnya menunjukkan bahwa Nabi (s.‘a.w) memanggil semua sahabat agar membentangkan pakaian mereka sebagai suatu pemahaman tentang sifat terlupa mereka, sedangkan dalam bentuk riwayat yang lain dicatatkan menerusi al-Maqbari, perkara itu berlaku di antara Abu Hurairah sebagai seorang darinya dan Nabi (s.‘a.w) menunjukkan bahwa Abu Hurairah mengadu kepada Nabi (s.‘a.w) tentang sifat pelupanya. Selanjutnya, bentuk  riwayat yang lain menerusi A‘raj merujuk kepada tidak melupakan ucapan kata-kata Nabi (s.‘a.w) manakala bentuk riwayat yang dicatatkan menerusi al-Maqbari merujuk kepada bebas dari sifat pelupa secara umumnya, yaitu setiap perkara sama ada ia merupakan hadith atau sesuatu yang lain.

    Masih ada satu lagi bentuk riwayat hadith ini. Muslim telah menceritakan dalam Sahihnya,  dari Ibn Musayyab di mana Abu Hurairah dikatakan telah mengatakan: “ Selepas hari itu aku tidak lagi terlupa sesuatu yang Nabi (s.‘a.w) ceritakan kepadaku.” Bentuk riwayat ini menerangkan keadaan lebih bebas dari sifat pelupa berbanding dengan bentuk riwayat menerusi A‘raj tetapi lebih kurang sedikit berbanding dengan al-Maqbari.

    Kemudian terdapat bentuk riwayat Ibn Sa‘d dalam kitabnya, Tabaqat  bersumberkan Amr bin Mardas bin ‘Abd al-Rahman al-Jundi menunjukkan bahwa Abu Hurairah berkata: Nabi (s.‘a.w) berkata kepadaku, “ bentangkanlah pakaianmu.” Lalu aku membentangkannya. Kemudian baginda menceritakan kepadaku sepanjang hari. Kemudian aku membungkuskan pakaianku ke arah dadaku and aku tidak lagi terlupa sesuatu dari kata-kata baginda. Di sini adalah wajar diperlihatkan bahwa kata-kata “ baginda menceritakan sepanjang hari “ kelihatan hanya dalam bentuk riwayat ini dan tidak ada dalam riwayat-riwayat yang lain.

    Kitab al-Isabah oleh Ibn hajar mengandungi suatu lagi bentuk riwayat hadith bersama dengan yang lain dan menunjukkan bahwa Abu Hurairah pergi menemui Nabi (s.‘a.w) sewaktu baginda sakit. Lalu dia memberikan salam kepadanya ketika dia sedang berdiri dan Nabi (s.‘a.w) bersandar ke dada ‘Ali (‘a.s) manakala tangan ‘Ali (‘a.s) di dada Rasulullah (s.‘a.w) mengurut-urutkannya. Kaki Nabi (s.‘a.w) diluruskan. Nabi (s.‘a.w)  berkata: “ Datang ke mari, wahai Abu Hurairah.” Dia pergi lebih dekat. Kata baginda: “ Datanglah lebih hampir, wahai Abu Hurairah.” Dia datang lebih dekat. Baginda sekali lagi berkata: “ Dekatlah lagi wahai Abu Hurairah.” Dia pun mendekatkan diri lebih hampir sehingga jarinya mencecah jari Nabi (s.‘a.w). Kemudian baginda berkata: “ Duduklah.” Lalu dia pun duduk. Kemudian baginda berkata: “ Letakkanlah pakaianmu di sebelah berdekatan denganku.” Abu Hurairah memegang pakaiannya, membukanya dan membentangkannya dekat Nabi (s.‘a.w). Nabi (s.‘a.w) kemudian berkata kepadanya: “ Haruskah aku memberitahumu cara bertindak yang kamu tidak patut tinggalkan selama hayatmu.” Katanya: “ Silalah beritahu.” Kemudian baginda berkata: “ Kamu hendaklah mandi pada hari Jumaat dan hendaklah melakukannya pada awal pagi dan tidak melibatkan diri dalam perkara-perkara yang sia-sia., dan aku nasihatkan kepadamu berpuasa selama 3 hari setiap bulan karena ia seolah-olah seperti berpuasa selama sepanjang tahun. Dan aku nasihatkanmu mendirikan dua raka‘at salat subuh, tidak sekali-kali meninggalkannya, walaupun kamu mendirikan salat sepanjang malam, karena salat dua raka‘at itu mengandungi banyak keistimewaan. Nabi (s.‘a.w) mengulanginya sebanyak 3 kali, kemudian baginda berkata: “ Bungkuslah pakaianmu.” Lalu aku membungkusnya ke dadaku.

    Menurut Abu Hurairah seperti dipetik oleh Ibn Hajar dalam kitabnya, al-Isabah, 
Abu Ya‘la turut menceritakan menerusi al-Walid bin Jami‘ bahwa Abu Hurairah meriwayatkan: Aku mengadu kepada Nabi (s.‘a.w) mengenai kelemahan ingatanku sewaktu baginda berkata: “ Bukalah kain selimutmu.” Kemudian dia membukanya sambil berkata: “Sekarang gulungkanlah ia ke dadamu.” Aku lalu menggulungkannya. Selepas dari itu, aku tidak pernah lupa mana-mana hadith.

    Sekali lagi, menurut Ibn Hajar dalam al-Isabahnya, Abu Ya‘la seterusnya menceritakan menerusi Yunus bin ‘Ubaid dari Hasan al-basri dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa Nabi (s.‘a.w)  bersabda: “ Sesiapa yang mengambil dariku suatu ayat, dua ayat atau tiga darinya agar mengikat mereka dan menyebarkannya.” Justeru, aku membentangkan kain selimutku di hadapan baginda sementara aku bercakap. Seterusnya aku menggulungkannya. Aku harap aku tidak melupakan sesuatu dari kata-kata baginda.

    Imam Ahmad juga turut meriwayatkan bentuk hadith ini.

    Abu Nu‘aim juga dalam kitabnya, Hilyat al-Awliya’,  diceritakan dari ‘Abdullah bin Abi Yahya dari Sa‘id bin Abi Hind dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Wahai Abu Hurairah, tidak mahukan engkau menanyakanku perkara-perkara penting di bahuku dan berharga yang rakan-rakanmu tanyakan. Aku berkata: “ Aku mohon kepadamu supaya mengajarkan kami apa yang Allah telah memberitahumu.” Kemudian aku mengeluarkan pakaian berwarna di belakangku dan membentangkannya di antara diriku dan dirinya. Ia seperti aku masih melihat Kemudian Nabi (s.‘a.w) menceritakan kepadaku sedangkan aku mendengarnya dengan penuh perhatian. Kemudian baginda menyuruhku mengambil balik pakaian dan menggulungkannya ke arah diriku. Sebagai kesudahannya, aku tidak pernah terlupa lagi suatu patah perkataan dari apa yang disampaikan kepadaku.

    Kini, sesiapa yang mengkaji hadith ini dalam segala bentuknya sebagai diriwayatkan menerusi pelbagai rangkaian perawinya, dia akan mendapati perbezaan dalam perkataan dan juga dari segi logik dengan setiap sumber perawi dan melihat bahwa tiada perkataan mahupun logik membawanya kepada satu matlamat bahkan ia tidak juga menuju ke arah yang sama karena setiap satu darinya bercanggah di antara satu sama lain. Oleh yang demikian, hadith ini dengan jelas bukanlah hadith yang sahih.

    Keenam, Abu Hurairah berkata: Lalu aku membentangkan pakaian bercorakku itu, karena aku tidak ada pakaian yang lain. Ini bermaksud bahwa dia berkeadaan telanjang. Kedudukan ini sudah tentu tidak dapat diterima. Untuk menyelesaikan kedudukan ini, al-Qastalani dan Zakariyya al-Ansari dalam syarah-syarah mereka cuba mentafsirkannya dengan maksud dia membentangkan sebahagian saja dari pakaian itu. Bagaimanapun, ini tidak dapat disokong oleh kata-kata Abu Hurairah sendiri.

    Ketujuh, dalam kandungan hadith itu sendiri cerita yang digambarkan dalam hadith yang sedang dibincangkan menunjukkan cerita dongeng pada umumnya direka oleh seseorang yang tidak berilmu tinggi dan ia tidaklah sama sekali berbeza dari ciptaan para penjahat. Dalam mana-mana keadaan, ia sama sekali tidak boleh diambil kira sebagai mu‘jizat Rasulullah (s.‘a.w).

Penolakan hadith-hadith Abu Hurairah oleh tokoh-tokoh terawal postheadericon

Pada masa Abu Hurairah masih hidup itu sendiri, ramai orang menolak dan membenci cerita atau riwayatnya karena dia menceritakannya dalam jumlah yang sangat besar dan telah menerimapakai gaya atau stail rekaannya sendiri yang agak aneh, yang menimbulkan keraguan dalam pemikiran orang ramai dan mereka enggan menerima hadith tersebut, dari kedua-dua aspek, kualiti dan bilangan (kuantiti).

    Abu Hurairah sendiri berkata dalam nada sesal dan tidak berdaya: “ Orang ramai mengatakan bahwa Abu Hurairah menceritakan hadith yang terlalu banyak, namun Allah akan ditemui jua. Mereka juga mengatakan bahwa Muhajirin dan Ansar tidak meriwayatkan hadith sedemikian banyak.” Di sini dia dengan jelas menunjukkan bahwa kedua-dua aspek, bilangan dan kualiti riwayatnya tidak disukai orang ramai. Dia juga turut memberikan amaran kepada mereka dengan Allah dan Hari Pengadilan ketika mereka semua akan menemui-Nya. Dalam kata-katanya yang lain, dia dengan terang mengatakan: “ Namun mengenai dua baris ayat dalam al-Qur’an, aku tentu tidak meriwayatkan sesuatu kepadamu sama sekali, yaitu:

“ Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” 

Ia telah diriwayatkan oleh kedua-dua tokoh, al-Bukhari dan Muslim.masing-masing dalam kitab Sahih mereka.

    Hujah yang sama telah diterangkan lebih lanjut oleh Abu Zarrin yang mengatakan: Abu Hurairah datang kepada kami, sambil memukul-mukul dahinya dengan tangannya seraya berkata: “ Lihatlah di sini, adakah kamu, orang ramai bermaksud mengatakan bahwa aku berdusta dengan nama Rasulullah (s.‘a.w) bertujuan memberikan petunjuk kepadamu sedangkan aku sendiri tidak mendapat petunjuk.”

    Ketika Abu Hurairah datang ke ‘Iraq bersama-sama Mu‘awiyah dan melihat sebilangan besar orang yang datang menyambutnya, dia pun berlutut di Masjid Kufah, kemudian batuk beberapa kali  agar orang ramai memberikan perhatian kepadanya dan apabila semua orang berkumpul di sekelilingnya, dia mengungkapkan kepada mereka: “ Wahai penduduk ‘Iraq, adakah kamu aku berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya (s.‘a.w) dan menjadikan diriku layak dihumbankan ke neraka…” dan kemudian dia terus melemparkan segala bentuk tuduhan dan kesalahan ke atas ‘Ali (‘a.s) hanya semata-mata untuk menyenangkan tuannya dan juga musuh-musuh ‘Ali (‘a.s) dengan kata-kata yang penuh dengan pendustaan dan rekaan. 

    Ibn Qutaibah telah mencatatkan dalam kitabnya, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadith  bahwa Nizam mengatakan bahwa ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali (‘a.s) dan ‘A’isyah seringkali mendustakan Abu Hurairah. Bahkan ketika cuba mendebatkan Nizam dan mempertahankan Abu Hurairah, Ibn Qutaibah mengakui seperti berikut:  Berhubung dengan keterangan Nizam bahwa ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali (‘a.s) dan ‘A’isyah seringkali mengenepikan Abu Hurairah, hakikatnya adalah bahwa Abu Hurairah berada dalam kumpulan bersama-sama Nabi (s.‘a.w) untuk hanya 3 tahun saja dan orang ramai telah meriwayatkan begitu banyak cerita darinya. Oleh yang demikian, apabila dia menceritakan lebih banyak daripada apa yang diceritakan berbanding dengan para sahabat yang lain termasuklah sahabat-sahabat besar atau sahabat-sahabat yang terkemuka dalam Islam, mereka menyalahkannya dan mendustakannya dengan mengatakan “ bagaimana kamu mendengar semuanya itu secara bersendirian, dan siapakah lagi yang mendengarnya bersama-samamu?” ‘A’isyah merupakan tokoh yang paling keras mendustakannya karena hayatnya yang lebih panjang seperti hayatnya juga.

    ‘Umar juga turut bersikap keras terhadap sesiapa saja yang banyak meriwayat tanpa mendapat pengukuhan dan pengesahan terhadap riwayat itu…” Dengan cara ini jugalah, dia (Ibn Qutaibah) mengakui keterangan Nizam itu. Hanya kebenaran jualah yang pasti menyingkapkan kebenaran pada akhirnya.

    Para sahabat besar dan bahkan orang-orang selepas mereka tetap mendustakan Abu Hurairah sepanjang hayat mereka dan tidak teragak-agak  melakukannya, tetapi kebanyakan manusia muslim yang datang selepas mereka mulai mengelakkan diri dari mendustakannya karena mereka berpegang kepada kepercayaan tentang “ semua sahabat adalah adil,” pada umumnya dan enggan melakukan penyelidikan atau pengkajian terhadap akhlak mereka sebagai suatu prinsip asas. Dengan cara ini, mereka meletakkan pelbagai bentuk halangan atau rintangan kepada akal dan pemikiran mereka, membutakan mata dan menutupi telinga mereka sama seperti yang digambarkan dalam ayat al-Qur’an:

“ Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” 

    Walau bagaimanapun, para Imam di kalangan Ahl al-Bait (‘a.s) yaitu kaum kerabat Rasulullah (s.‘a.w)  menilai semua sahabat berdasarkan penilaian sahabat terhadap diri mereka sendiri. Oleh itu, berhubung dengan Abu Hurairah, pendapat mereka adalah sama seperti ‘Ali (‘a.s), ‘Umar, ‘Uthman dan ‘A’isyah sebutkan di atas, dan semua pengikut mereka yaitu golongan Syi‘ah sama ada yang awal atau yang akhir sentiasa mengikuti mereka dalam perkara ini mulai pada zaman Amir al-Mu’minin ‘Ali (‘a.s) hingga ke hari ini.

    Berhubung dengan pendapat tokoh-tokoh lain, pandangan beberapa orang tokoh terkemuka dicatatkan seperti di bawah:

    Imam Abu Ja‘far Askafi mengatakan: Abu Hurairah dianggap sebagai seorang gila oleh para ketua kami dan tidak boleh diterima sebagai perawi. Beliau juga mengatakan: Khalifah ‘Umar memukulnya dengan tali cemeti sambil berkata “ kamu menyampaikan riwayat yang keterlaluan banyaknya dari Nabi (s.‘a.w) dan aku pasti akan memerangimu karena kamu melakukan penddustaan terhadap Nabi (s.‘a.w).”

    Sufyan al-Thauri menceritakan dari Mansur, dari Ibrahim al-Taimi yang mengatakan: Orang ramai tidak mengakui hadith-hadith Abu Hurairah kecuali yang berkaitan dengan syurga dan neraka.

    Abu Usamah menceritakan dari A‘masy yang mengatakan: Ibrahim merupakan seorang yang boleh dipercayai dalam hadith. Justeru apabila aku mendengar hadith, aku pergi kepadanya dan menyebutkan di hadapannya. Pada suatu hari aku membawa beberapa buah hadith kepadanya yang diceritakan dari Abu Salih, seterusnya dari Abu Hurairah. Katanya: Maafkan aku dalam persoalan Abu Hurairah karena orang ramai biasanya menolak kebanyakan hadith darinya.

    Telah diceritakan dari ‘Ali (‘a.s) bahwa beliau berkata: Pembohong besar di kalangan manusia atau katanya, di kalangan manusia yang hidup terhadap Nabi (s.‘a.w) ialah Abu Hurairah al-Dusi.

    Abu Yusuf menanyakan Abu Hanifah bahwa dalam sesuatu persoalan yang kita bertembung dengan sebuah hadith dikatakan dari Nabi (s.‘a.w) tetapi berbeza sama sekali dengan pendapat kita, apakah yang harus kita lakukan terhadapnya. Katanya: “ Sekiranya ia disampaikan menerusi sanad (perawi) yang benar, kita hendaklah mengamalkannya dan mengenepikan pendapat kita.” Kemudian aku berkata: “ Apakah pula katamu mengenai Abu Bakr dan ‘Umar.” Dia berkata: “ Dalam urusan mengenai mereka, aku menegahmu dari memberikan pendapat.” Aku berkata lagi: “ ‘Ali (‘a.s) dan  ‘Uthman pula.” Dia berkata: “ Kedua-duanya sama saja.” Apabila dia melihat bahwa aku menamakan para sahabat seorang demi seorang, lalu dia berkata: “ Semua sahabat adalah adil melainkan beberapa orang saja,” dengan mengecualikan Abu Hurairah dan Anas bin Malik.

    Ringkasnya, sudah jelas bahwa Abu Hanifah dan para sahabat lain biasanya menolak hadith-hadith Abu Hurairah apabila ia bercanggah dengan pendapat mereka. Sebagai contoh: Abu Hurairah dan semua sahabat bersepakat bahwa salat akan terbatal disebabkan perbuatan bercakap sama ada terlupa, jahil atau karena sesuatu yang seolah-olah menunjukkan orang yang melakukannya itu sudah selesai. Madhhab Fiqh Hanafi adalah jelas dalam persoalan itu dan pendapat yang sama dipegang oleh Sufyan al-Thauri. Ini bermakna bahwa mereka tidak memberikan perhatian dan penekanan langsung kepada hadith Abu Hurairah  di mana dia menceritakan bahaw: Nabi (s.‘a.w) pada suatu ketika terlupa dan mengakhiri salat empat raka‘at dalam dua raka‘at, kemudian baginda bangkit dari tempat salatnya and pergi ke biliknya. Kemudian baginda datang kembali ketika itu ditanyakan kepadanya: “ Adakah kamu mengqasarkan (memendekkan) salat atau terlupa.” Baginda membalas: Aku tidak mengqasarkan dan bukan terlupa.” Kemudian mereka berkata: “ Tetapi kamu melakukan dua raka‘at saja bersama-sama kami.” Selesai soal-jawab di antara baginda dengan mereka, baginda percaya apa yang mereka katakan. Justeru dengan bersandarkan dua raka‘at terdahulu itu, baginda menyempurnakan salat kemudian bersujud sahwi (sujud karena terlupa).

    Atas dasar inilah, Imam Malik, Imam al-Syafi‘i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa bercakap karena terlupa semasa bersalat, atau  keyakinan orang yang menunaikan salat bahwa dia tidak terikat lagi dengannya tidak menyebabkannya terbatal. Bagimanapun, sebaliknya Abu Hanifah tidak menerima dan mengakui hadith Abu Hurairah karena dia berpendapat salat terbatal dalam keadaan seperti itu.

    Sebelum menamatkan perbincangan, kami kemukakan di bawah ini beberapa contoh yang menunjukkan kedudukan Abu Hurairah pada pandangan beberapa orang sahabat:

(1) Menurut Musaddad dalam Musnadnya, dan Ibn Hajar dalam Isabahnya, Abu Hurairah dikatakan berkata: Apabila ‘Umar mendapat tahu tentang hadith-hadithku, dia mengutus kepadaku dan berkata: Adakah kamu bersama-sama kami pada hari kami berada dalam rumah si-polan dan si-polan?” Aku berkata: “ Ya.” Dia berkata: “ Nabi (s.‘a.w) berkata pada hari itu, barang siapa berdusta terhadapku dengan sengaja, maka sedialah tempatnya di neraka.”

    Ini merupakan petunjuk paling jelas bahwa Abu Hurairah bukanlah di kalangan orang-orang yang meriwayatkan hadith semasa ‘Umar bahkan bukan pula termasuk orang-orang yang ‘Umar lihat atau dengar  meriwayatkan hadith. Namun begitu, apabila dia mendapat tahu beberapa buah hadith Abu Hurairah menerusi orang-orang lain dan keanehannya memeranjatkannya, dia menghantar peringatan kepadanya untuk memberikan amaran terhadap perkara tersebut dengan pembalasan neraka.

(2) Menurut Ibn ‘Asakir dalam kitabnya, Kanz al-‘Ummal  ‘Umar pada suatu kali memperingatkan Abu Hurairah dengan katanya: “ Hentikanlah menyampaikan riwayat dari Nabi (s.‘a.w) atau sekiranya tidak, aku akan campakkanmu ke bumi Dus atau bumi monyet.”

(3) Menurut Imam Abu Ja‘far Askafi, seperti yang telah disebutkan terdahulu, pada suatu kali ‘Umar begitu marah terhadap Abu Hurairah karena meriwayatkan hadith keterlaluan banyaknya dari Nabi (s.‘a.w) lalu memukulnya dengan tali cemetinya sambil memperingatkannya dengan kata-katanya: Kamu sudah keterlaluan, dan karena itu aku terpaksa menentangmu disebabkan pendustaanmu terhadap Nabi (s.‘a.w).

(4) ‘Umar melucutkannya dari Bahrain selepas memukulnya sehingga bahagian belakangnya berdarah dan dia mengambil balik 10 000 dirham harta Bait al-Mal darinya dan memberikan peringatan kepadanya dengan kata-kata yang kesat seperti yang diperlihatkan dalam keterangan Abu Hurairah semasa pemerintahan dua orang khalifah.
  
(5) Menurut Muslim dalam Sahihnya,   ‘Umar memukul Abu Hurairah pada masa hayat Nabi (s.‘a.w) begitu teruk sehingga jatuh terduduk.

(6) Abu Ja‘far Askafi telah menceritakan bahwa ketika ‘Ali (‘a.s) terdengar mengenai Abu Hurairah meriwayatkan hadith, beliau berkata: “ Dia manusia paling banyak berdusta,” atau katanya: “ pendusta paling besar terhadap Rasulullah (s.‘a.w) di kalangan manusia yang hidup ialah Abu Hurairah.”

(7) Abu Hurairah selalu mengatakan: “ Sahabatku menceritakan kepadaku,” atau “ aku melihat sahabatku,” atau “ sahabatku Nabi (s.‘a.w) telah berkata kepadaku.” Apabila ia disampaikan kepada ‘Ali (‘a.s), beliau berkata: “ Bilakah masanya Rasulullah (s.‘a.w)  menjadi sahabatmu, wahai Abu Hurairah?”

(8) Menurut al-Hakim dalam kitabnya, al-Mustadrak  ketika hadith-hadith Abu Hurairah sampai kepada pengetahuan ‘A’isyah, dia mengutuskan seseorang kepadanya dan berkata: “ Apalah hadith-hadith ini yang sampai kepada kami bahwa kamu menceritakan sesuatu dari Nabi (s.‘a.w). Adakah kamu mendengar lain dari apa yang kami dengar, adakah kamu melihat lain dari apa yang kami lihat?” katanya, “ Wahai Umm al-Mu’minin, cermin dan logammu menjauhkanmu  dari Nabi (s.‘a.w).”

(9) Abu Hurairah menceritakan bahwa anjing, wanita dan kaldai membatalkan salat lalu ‘A’isyah menolaknya dengan berkata: “ Aku melihat Nabi (s.‘a.w) menunaikan salat di tengah-tengah katil sedang aku pula berada di atas katil menjadi hadangan antara baginda dengan Qiblah.”

(10) Abu Hurairah menceritakan sebuah hadith yang menentang berjalan di atas sebelah kaki saja. Ketika ‘A’isyah mendapat tahu mengenainya, dia berjalan di atas sebelah kaki dan  berkata “ Aku pasti akan menentang Abu Hurairah dalam persoalan ini.”

(11) Abu Hurairah menceritakan bahwa sesiapa berada dalam keadaan berjunub menjelang subuh (dalam keadaan berhadath besar)  tidak harus berpuasa. Dia telah ditolak dalam hal ini oleh ‘A’isyah dan Umm Salmah seperti yang telah dinyatakan sebelumnya.

    Hadith ini dan dua hadith yang terdahulu boleh diperolehi di dalam Ta’wil Mukhtalaf al-Hadith oleh Ibn Qutaibah.

(12) Dua orang menemui ‘A’isyah dan berkata mengenai Abu Hurairah yang telah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa ada tanda ramalan pada wanita dan binatang, yang menjadikan ‘A’isyah hilang sabar dan berkata: “ Demi Allah yang mewahyukan al-Qur’an kepada Abu al-Qasim (s.‘a.w), barang siapa meriwayatkannya dari Rasulullah (s.‘a.w) bercakap dusta.”

(13) Pada suatu kali, Abu Hurairah duduk di sebelah tempat ‘A’isyah dan menceritakan hadith-hadith dari Nabi (s.‘a.w) ketika ‘A’isyah sedang membaca tasbih. Selepas selesai, dia mengatakan: “ Bukankah sesuatu yang menghairankan Abu Hurairah menceritakan hadith-hadith dari Nabi (s.‘a.w) dan membuatkan aku mendengarnya ketika aku pula sedang sibuk membaca Tasbih sementara dia akan pergi dari situ sebelum aku selesai. Sekiranya aku dapat menangkapnya, aku akan menafikannya.”

    Hadith ini dan hadith yang terdahulu kelihatan dalam kitab Ibn Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadith.

(14) Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi (s.‘a.w) bersabda: “ Apabila seseorang dari kamu terjaga dari tidur, dia hendaklah membasuh kedua-dua tangannya sebelum meletakkannya ke pinggan  karena tiada seorang pun tahu ke mana kedua-dua tangan itu pergi.”

    ‘A’isyah menolak hadith ini dan  enggan menerimanya sambil berkata: “ Apakah yang boleh kita lakukan dengan mihras (bekas air yang berat dari batu yang dipotong).  Walau bagaimanapun, dapatlah diperhatikan bahwa ‘A’isyah kelihatan enggan mengakui kesahihan hadith ini karena dia tidak yakin dan percaya kepada Abu Hurairah.   

(15)  Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w): “ Sesiapa yang mengusung keranda hendaklah berwudu’.”

    Ibn ‘Abbas tidak mengakui kesahihan hadith ini sebaliknya terus menolaknya sambil berkata: “ Wudu’ tidak wajib semasa mengusung keranda kayu. Perkara ini juga telah diceritakan oleh sebilangan besar ulama yang terpercaya termasuklah juga Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam.     

(16) Ibn ‘Umar selalu meriwayatkan bahwa Nabi (s.‘a.w) membenarkan membunuh anjing kecuali anjing yang digunakan untuk memburu, untuk mengawal kambing dan bebiri atau untuk menjaga ternakan. Disampaikan untuk perhatian Ibn ‘Umar bahwa Abu Hurairah menambah dalam hadith itu, anjing yang menjaga lading. Ibn ‘Umar tidak mengakuinya tetapi sebaliknya menolaknya dengan mengatakan: “ Abu Hurairah  mempunyai sebuah ladang, lalu dia mengadakan sedikit tambahan dalam hadith Nabi (s.‘a.w) bertujuan untuk menjaga anjingnya dan juga ladangnya sebagai mengambil sikap berhati-hati. Hadith ini kelihatan dalam kitab Muslim, Sahih. 

(17) Ibn ‘Umar tidak mengesahkan hadith Abu Hurairah mengenai landak dan terus meragui kesahihannya.

(18) Ibn ‘Umar terdengar Abu Hurairah meriwayatkan hadith bahwa barang siapa menyertai upacara pengusungan jenazah, akan mendapat satu bahagian pahala lalu menyatakan: Abu Hurairah telah menyampaikan hadith yang keterlaluan banyaknya.” Dia tidak mengakui kesahihannya sehinggalah dia menghantarkannya kepada ‘A’isyah untuk mendapatkan pandangannya.  ‘A’isyah turut meriwayatkannya dan barulah selepas itu, dia mengakui kesahihannya. Hadith ini telah dibuktikan benar. Muslim telah menyebutkannya dalam kitabnya, Sahih.

(19) Amir bin Syuraih bin Hani turut melakukan perkara yang sama apabila dia terdengar Abu Hurairah menceritakan bahwa: “ Barang siapa mengingini bertemu Allah, Allah suka bertemu dengannya, dan barang siapa membenci bertemu Allah, Allah juga tidak suka bertemu dengannya. Dia tidak mengakui kesahihan Abu Hurairah sehingga dia bertanya ‘A’isyah mengenainya dan ‘A’isyah turut meriwayatkannya sambil memahamkan maksud hadith itu kepadanya. Hadith ini juga telah dibuktikan benar.

    Berhubung dengan persoalan mengenai keadilan semua sahabat, tidak ada bukti yang menyokongnya. Bahkan para sahabat sendiri tidak menyedarinya. Malahan sekiranya diandaikan hadith itu benar, kita sebaiknya mengikutinya sebagai penghormatan kepada sahabat yang kedudukan mereka tidak diketahui, dan bukannya menghormati  sahabat yang ditolak oleh setiap orang termasuk ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali (‘a.s) dan ‘A’isyah atau seseorang yang patut ditentang karena ada bukti yang jelas sementara menentang Abu Hurairah pula, kita memang mempunyai bukti yang cukup jelas. 

Abu Hurairah mendakwa dia hadir sedangkan dia sebenarnya tidak hadir postheadericon

Riwayat-riwayat Abu Hurairah turut diragukan karena dalam beberapa keadaan, dia mendakwa hadir di tempat itu sedangkan sebenarnya dia tidak hadir dan tidak mungkin dapat hadir karena alasan-alasan yang dapat ditolak lagi.

    Contoh, katanya: Aku memanggil Ruqaiyyah, anak perempuan Nabi (s.‘a.w), isteri ‘Uthman ketika dia sedang memegang sikat di tangannya. Katanya: “ Nabi (s.‘a.w) baru saja pergi dariku, selepas aku menyikat rambutnya. Dia berkata kepadaku: “ Bagaimana kamu mendapati Abu ‘Abdullah (yaitu ‘Uthman).” Aku berkata: “Baik.” Dia pun berkata: “ Layanilah dia dengan penuh hormat karena di kalangan sahabatku, dia mempunyai akhlak yang hampir sama denganku.”

    Al-Hakim telah menceritakan hadith ini dalam al-Mustadrak  dengan menyebutkan bahwa sumber  hadith tersebut adalah sahih tetapi teksnya (matan) tidak dapat dipercayai karena Ruqaiyyah telah wafat 3 tahun selepas Hijrah pada masa kemenangan al-Badr sedangkan Abu Hurairah  memeluk Islam selepas kemenangan Khaybar pada tahun 7 Hijrah. Kenyataan yang sama dicatatkan oleh al-Dhahabi dalam Talkhis al-Mustadrak mengenai hadith ini.

    Berhubung dengan sifat terlupa Nabi (s.‘a.w), Abu Hurairah menceritakan: Kami bersalat zuhr atau ‘Asr bersama-sama dengan Rasulullah (s.‘a.w) apabila baginda mengakhirinya dengan hanya dua raka‘at. Justeru itu, Dhu al-Yadain berkata kepada baginda: “ Adakah kamu mengqasarkan (memendekkan) salat atau kamu terlupa.” Namun demikian, Dhu al-Yadain telah pun mati syahid dalam peperangan al-Badr lama dahulu sebelum Abu Hurairah menganuti Islam seperti yang telah diperlihatkan sebelumnya.

    Banyak kali juga, Abu Hurairah mengucapkan kata-kata  ini untuk meraikan kejayaan: “Kami telah menakluki Khaybar, ketika dia tidak memperolehi emas atau perak sebagai harta rampas perang tetapi hanya bebiri dan kambing, lembu, unta dan sedikit harta seperti …….” Walaupun telah disepakati bahwa dia memang tidak pernah hadir pada masa penaklukan Khaybar. Oleh karena itulah, para pensyarah kedua-dua kitab Sahih al-Bukhari dan Muslim turut sama meragui kesahihan ayat tersebut: “ kami menakluki Khaybar,” dan hanya benar-benar dapat mengambilnya sebagai merujuk kepada umat Islam secara umum.

    Biasanya, dia juga mengatakan: “ Kami mengambil bahagian dalam Perang Khaybar bersama-sama dengan Nabi (s.‘a.w)…”  Sebentar tadi telah pun disebutkan bahwa Abu Hurairah tidak pernah hadir dalam Perang Khaybar karena dia menganuti Islam selepas kemenangan di Khaybar.

    Dia juga turut berkata: “ Aku melihat 70 orang ahli Suffah, tiada seorang pun mempunyai sehelai kain menutupi badan mereka.” Kini, fakta menunjukkan bahwa  70 orang ahli Suffah telah mati syahid dalam Perang Bi’r al-Ma‘unah yang meletus pada bulan Safar tahun 4 selepas Hijrah lama sebelum Abu Hurairah menerima Islam atau datang dari tanah tumpah darahnya, Yaman. Bagaimanakah dia boleh mengatakan bahwa dia melihat mereka?

    Sememangnya cukup jelas bahwa Abu Hurairah biasanya menceritakan dari Nabi (s.‘a.w) apa yang dia sendiri tidak benar-benar mendengar dari baginda (s.‘a.w) dan dia turut menunjukkan dirinya hadir sedangkan dia memang tidak pernah hadir. Cukup menghairankan bahwa para pengarang Sahih telah memenuhkan kitab mereka dengan cerita-ceritanya tanpa mengambilkira atau mempertimbangkan aspek-aspek tabiatnya yang amat penting ini dalam menyampaikan riwayat hadith tersebut, dan tidak pula menguji hadith-hadith itu menurut ukuran yang diterimapakai bagi mengesan pemalsuan dan rekacipta sementara orang ramai pula pada umumnya hanya mengikut pengarang-pengarang kitab Sahih dan melakukan perkara yang sama berkaitan dengan hadith-hadith tersebut tanpa menguji kesahihan dan kebenarannya.

Abu Hurairah mengaitkan cerita atau riwayatnya sendiri kepada Nabi (s.‘a.w) postheadericon

Adalah menjadi kebiasaan bagi Abu Hurairah mengaitkan (hadith) secara langsung kepada Nabi (s.‘a.w), walaupun hadith-hadith itu diterimanya dari orang perantara. Dengan kata-kata lain, dia tidak membuat sebarang perbezaan di antara apa yang dia dengari sendiri dari Nabi (s.‘a.w) secara langsung dan apa yang dia perolehi menerusi orang lain. Contoh, riwayatnya bahwa Nabi (s.‘a.w) berkata kepada bapa saudaranya, Abu Talib: “ Ucapkanlah La ilaha illa Allah, aku akan menjadi saksi untukmu pada Hari Qiyamah….” dan sebagainya. Sudah diketahui umum bahwa Abu Talib wafat 20 tahun sebelum Abu Hurairah datang ke kota Hijaz dari tanah tumpah darahnya, Yaman dan karena itu, tidak timbul persoalan dia mendengarnya secara langsung dari Nabi (s.‘a.w) yang menyebutkan demikian tetapi Abu Hurairah meriwayatkannya tanpa menyebutkan nama orang tengah atau perantara seolah–olah dia melihat dengan matanya sendiri bahwa Nabi (s.‘a.w) berbicara dengan bapa saudaranya, Abu Talib dan benar-benar mendengar kata-katanya.

    Sekali lagi, Abu Hurairah menceritakan bahwa ketika ayat “ wa andhir ‘asyirata-ka’l-aqrabin,” diwahyukan, Nabi (s.‘a.w) berdiri di antara bapa-bapa saudaranya sambil berkata: “Wahai kaum Quraisy, aku tidak dapat menyelamatkanmu dari Allah….” Di sini sekali lagi, semua ulama bersepakat bahwa ayat ini diwahyukan semasa zaman-zaman awal kenabian baginda (s.‘a.w) bahkan sebelum ia diketahui umum sementara pada masa itu, Abu Hurairah masih lagi berada di Yaman sebagai seorang bukan Islam karena dia hanya datang ke kota Hijaz kira-kira 20 tahun selepas penurunan wahyu tersebut. Bagaimana mungkin dia boleh mendakwa: Nabi (s.‘a.w) berdiri sambil berkata,” seolah-olah dia hadir dalam peristiwa itu dan melihat semua yang berlaku dalam kejadian itu dengan matanya sendiri dan mendengar semua perkataan itu dengan telinganya ketika ia ditutur atau diucapkan di tempat itu.

    Demikianlah juga, katanya: Nabi (s.‘a.w) selalu berdoa dalam qunutnya: “ Ya Allah, ampunilah Salma bin Hisyam; Ya Allah ampunilah Walid bin Walid; Ya Allah ampunilah ‘Ayyasy bin Abi Rabi‘ah; Ya Allah ampunilah orang-orang mu’min yang lemah (yang orang-oang kafir dapat tawan kembali dari berhijrah….)”

    Tokoh ulama semasa yang terulung pada zaman ini, Muhammad Amin al-Misri telah juga merujuk kepada sikap dan tabiat Abu Hurairah apabila dia menyebutkan: Adalah jelas bahwa Abu Hurairah tidak hanya membataskan dirinya kepada apa yang dia sendiri dengar dari Nabi (s.‘a.w) bahkan dia juga menceritakan dari Nabi (s.‘a.w) apa yang dia terima menerusi orang lain.

    Hakikatnya, Abu Hurairah sendiri mengakui kenyataan ini. Contoh, ketika dia menceritakan hadith yang dikatakan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa seseorang yang berada dalam keadaan berjanabah (berhadath besar) pada waktu subuh tidak harus berpuasa, dan ‘A’isyah serta Umm Salmah menafikannya, dia mengembalikan hadith itu sebaliknya kepada Fadl bin ‘Abbas dengan mengatakan bahwa dia tidak mendengarnya dari Nabi (s.‘a.w), tetapi dari Fadl bin ‘Abbas. Apakah hadith ini palsu atau sahih, kenyataannya adalah bahwa Abu Hurairah di sini dengan sendirinya mengakui bahwa  dia memperolehinya dari Fadl dan bukannya secara langsung dari Nabi (s.‘a.w).

    Mungkin dapat dihujahkan untuk menyokong Abu Hurairah bahwa ia tidak memberikan kesan kepada kesahihan hadith itu sekiranya ia diterima walaupun tidak langsung dari Nabi (s.‘a.w) , tetapi menerusi seorang perawi selama mana diterangkan bersumber dari Nabi (s.‘a.w) pada akhirnya. Ini bukanlah alasan yang kukuh karena kaedah ilmu hadith menghubungkan kepada kesahihan, kejujuran dan kesepaduan semua perawi yang mungkin terlibat dalam periwayatan hadith dari Nabi (s.‘a.w) hingga ke peringkat terakhir sewaktu ia dicatatkan. Oleh yang demikian, adalah menjadi suatu kewajiban bagi setiap orang (perawi) yang tidak menerima hadith itu secara langsung dari Nabi (s.‘a.w) menyatakan nama perawi yang menerimanya secara langsung dari Nabi (s.‘a.w) dan juga nama-nama semua orang yang menjadi perawi hingga kepada perawi yang terakhir. Ini merupakan suatu kewajiban bertujuan untuk menguji kesahihan hadith itu menerusi penglibatan hanya para perawi yang benar dan boleh dipercayai, dan hal ini tidak mungkin berlaku sekiranya nama walaupun salah seorang dari perantara (orang tengah) tidak diketahui. Kesimpulan perbincangan ini menunjukkan bahwa oleh karena Abu Hurairah selalu membuangkan nama-nama perawi yang menjadi perantaraan dalam kebanyakan hadith yang diriwayatkannya menyebabkan ia boleh dipersoalkan kecuali hadith-hadith itu diakui oleh orang lain menerusi para perawi yang tidak terputus, yang kesahihannya dapat diperiksa dan diuji. Oleh karena itu, hadith-hadith yang diriwayatkan Abu Hurairah sendirian gagal diterima sebagai hadith yang sahih dan boleh dipercayai

Orang berdosa bertaubat kepada Allah kemudian kembali melakukan dosa berulang kali lalu Allah mengatakan kepadanya: “ Buatlah apa yang kamu suka, karena Aku telah mengampunimu postheadericon

Menurut Muslim, Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Seorang telah melakukan dosa, lalu mengatakan: Ya Allah, ampunilah dosaku. Allah berkata: Hamba-Ku melakukan dosa lalu kemudian menyedari bahwa dia mempunyai Tuhan Yang Maha Mengampuni dosanya dan menghitung dosanya. Kemudian orang itu kembali (pada asalnya) dan melakukan dosa sekali lagi. Lalu dia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah berkata: Hamba-Ku melakukan dosa dan memperhitungkannya. Kemudian dia sekali lagi kembali (kepada asalnya) dan membuat dosa lagi sambil berkata: Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah berkata: Hamba-Ku melakukan dosa dan dia menyedari bahwa dia mempunyai Tuhan Yang Maha Mengampuni dosa dan memperhitungkan dosanya. Lakukanlah apa saja yang kamu kehendaki karena Aku telah mengampunimu.”

Kritikan

    Hadith ini seperti yang terdahulu dari segi logik, tujuan dan stailnya, merupakan salah satu yang dikemukakan oleh Abu Hurairah dari cerita-cerita khayalannya, seperti cerita-cerita yang pernah disampaikan wanita tua, tukang-tukang cerita di mana dia bertujuan untuk menunjukkan kebesaran sifat Maha Pengampun Allah, sedangkan hakikatnya adalah bahwa pengampunan Allah dan rahmat-Nya amat luas sehingga memerlukan mana-mana bentuk cerita dongeng untuk mengesahkan kepercayaan kepadanya. Pada hakikatnya, ia telah diperkukuhkan dengan akal dan juga menerusi ayat-ayat al-Qur’an dan hadith-hadith yang telah diakui umum bukan saja di kalangan umat Islam tetapi juga semua agama yang lain.

    Jelaslah, Allah tidak sama sekali menghendaki manusia melakukan apa yang dilarang. Bagaimana mungkin seseorang boleh melakukan dosa, kemudian memohon keampunan, seklai lagi melakukan dosa dan kemudian memohon keampunan atas perlakuan dosanya dan mengulanginya semula sehingga akhirnya Allah membenarkannya melakukan dosa karena Dia (Allah) telah mengampuninya. Apakah pula perbuatannya sehingga membolehkan seseorang diandaikan layak untuk mendapat keizinan untuk melakukan dosa sedangkan telah diketahui bahwa bahkan para nabi, rasul dan wali tidak diberikan kelonggaran seperti itu.

    Banyak sekali cerita-cerita khayalan para penzalim yang disampaikan oleh Abu Hurairah untuk mengurangkan kadar perbuatan jenayah mereka sebagai contoh, dia mengatakan:

“ Aku dengar Nabi (s.‘a.w) mengatakan: Malaikat maut mendekati seorang yang hampir mati tetapi tidak menemui sebarang kebaikan pada dirinya. Dia membuka hatinya, tetapi di situ juga dia tidak temui sebarang kebaikan. Lalu dia membuka tulang rahangnya dan mendapati tepi lidah menyentuh bahagian atas rahangnya mengucapkan La ilaha illa Allah. Lalu Allah mengampuninya.”

    Di antara riwayat-riwayat yang mengandungi cacian dan fitnah manusia ini dapatlah dikemukakan seperti berikut:

    Salat telah disiapkan dan saf-saf disediakan. Apabila Nabi (s.‘a.w) berdiri di atas kain sajdahnya, dia teringat bahwa dia dalam keadaan junub (yang memerlukan mandi wajib).

    Kita hanya dapat melepaskan diri dari tuduhan-tuduhan seperti itu terhadap Nabi (s.‘a.w) karena telah diketahui umum bahwa dia (Nabi) sentiasa memelihara diri dalam keadaan bersih dan suci pada setiap masa, yaitu dengan berwudu’ dan pada hakikatnya para nabi terlepas sama sekali dari kekotoran seperti itu.

    Dalam suasana yang sama adalah riwayatnya yang menafikan kemuliaan Nabi (s.‘a.w) ke atas Musa atau hadithnya bahwa sesiapa saja mengatakan bahwa Nabi (s.‘a.w) lebih utama dan mulia daripada Yunus bin Matta adalah pendusta, sedangkan seluruh umat Islam  bersepakat bahwa Nabi (s.‘a.w) merupakan manusia paling utama dan mulia daripada sekalian nabi, sebagaimana diperkukuhkan dengan hujah-hujah yang jelas, sahih dan benar.

    Demikian juga tentang riwayatnya menyebutkan bahwa tiada perbuatan seseorang yang menyebabkannya masuk neraka. Orang ramai berkata: “ Kamu juga tidak termasuk, wahai Nabi. Katanya: Aku juga (tidak termasuk).

    Inilah batasan menentang ayat-ayat al-Qur’an sebagai contohnya:

“ Inilah ganjaran pahala bagimu atas perbuatan yang kamu lakukan.”

    Manakala hadith ini: Tiada nabi diutuskan melainkan dia biasanya memberikan binatang makan rumput.” 

    Kenyataan itu sudah melampaui batas dengan menjatuhkan kedudukan para nabi.

    Hadith ini pula menyebutkan: Nabi Ibrahim dikhitankan selepas melangkaui usia 80 tahun.

    Hadith ini pula menyebutkan: (Nabi) ‘Isa melihat seseorang mencuri lalu berkata kepadanya, Adakah kamu mencuri? Katanya: Tidak, demi Dia, tiada tuhan melainkan Dia. Justeru dia mengakui dan mengesahkannya dan  menafikan apa yang dilihatnya itu.

    Hadith ini pula: Apabila Allah menciptakan Adam, Dia menggosok belakangnya dan dari situ keluarlah setiap ruh yang akan diciptakan sehingga ke hari Qiyamah seperti debu, kemudian Dia menjadikan kilauan cahaya di antara kedua mata setiap orang kemudian Dia meletakkannya di hadapan Adam. Adam bertanya: Siapakah mereka, Ya Tuhanku.” Allah menjawab: Keturunanmu. Di antara mereka, Adam perhatikan seorang yang mempunyai kilauan cahaya antara dua matanya yang menghairankannya, lalu dia berkata: Siapakah dia? Allah berkata: Inilah anakmu, Dawud. Adam berkata: Berapakah usia yang Kamu anugerahkan kepadanya? Allah berkata: 60 tahun. Katanya: Ya Tuhanku, tambahilah 40 tahun daripada usiaku kepadanya, menjadikan usianya 100 tahun. Allah berkata: Apabila ia dicatat dan dicapkan, ia tidak dapat diubah lagi. Kini, apabila usia Adam sudah sampai, malaikat maut datang kepadanya untuk mematikannya, Adam berkata: “ Bukankah 40 tahun dari usiaku masih ada.” Malaikat maut berkata kepadanya: “Bukankah kamu telah memberikannya kepada anakmu, Dawud?” Lantas, Adam menyangkalnya dan begitulah juga keturunannya. 

    Demikianlah hadithnya yang hampir sama dengan dia menunjukkan keadaan luarbiasa, di antara contoh-contohnya di sini sebelum menutup perbincangan ini sebagai tambahan kepada apa yang telah pun diperlihatkan dalam halaman-halaman yang lebih awal:

    Pertama, hadithnya menunjukkan bahwa berdasarkan percanggahannya sendiri, dia bersama-sama dengan Ala’ bin al-Hadrami apabila dia diutus dalam suatu ekspedisi ketenteraan seramai 4000 orang menuju ke arah Bahrain.  Lalu mereka berjalan sehingga sampai ke sebuah teluk yang tidak pernah dilalui mahupun direntasi. Kemudian Ala’ memegang tali kekang kudanya dan melintasi permukaan air sementara tenteranya mengikutinya. Abu Hurairah menambah: “ Demi Allah, tiada kaki, kasut mahupun kuku  yang basah.”

Kritikan

Sekiranya hadith ini benar, setiap orang dalam kumpulan tentera yang mengandungi 4000 orang sahabat akan menceritakannya sebagai suatu hadith yang tampak begitu jelas dengan para perawi (sanad) yang bersambung-sambung. Tetapi pada hakikatnya ia tidak mempunyai kekuatan sanad kecuali kepada Abu Hurairah saja. Apalah malangnya!

Kedua, hadith tentang Mizwad (bekas bekalan). Abu Hurairah berkata: Aku menghadapi tiga nasib malang yang tiada taranya dalam Islam. Kematian Nabi (s.‘a.w), akulah sahabatnya yang rendah diri, pembunuhan ‘Uthman dan kemudian kehilangan mizwad. Orang ramai bertanya kepadanya apa yang dimaksudkan mizwad. Katanya: “ Kami berada bersama-sama Nabi (s.‘a.w) dalam suatu perjalanan apabila baginda bertanyakanku: Adakah kamu mempunyai sesuatu?” Aku berkata: “ Buah tamar dalam bekas bekalanku.” Dia berkata: “ Keluarkanlah.” Aku keluarkan tamar  itu dan menyerahkannya kepadanya. Dia menyentuhnya dan berdoa dengannya sambil berkata: “ Bilang sampai sepuluh.” Aku bilang sampai sepuluh dan mereka makan sehingga mereka kekenyangan. Selepas itu, perkara yang sama berlaku sehingga seluruh tentera dapat makan dan buah tamar itu tetap bersama denganku dalam bekas bekalanku. Kemudian dia berkata: “ Wahai Abu Hurairah, bila saja kamu ingin makan sesuatu darinya, letakkanlah ia dalam tanganmu dan janganlah ragu-ragu.” Lalu, aku makan darinya sepanjang hayat Nabi (s.‘a.w), sepanjang hayat Abu Bakr, sepanjang hayat ‘Umar, dan sepanjang hayat ‘Uthman, namun sebaik saja ‘Uthman terbunuh aku telah kehilangan apa yang ada di tanganku dan juga bekas bekalanku. Patutkah aku memberitahumu berapa banyak aku makan darinya? Aku makan darinya sebanyak 200 muatan (unta)!”

Kritikan

    Tidak ragu-ragu lagi bahwa Nabi (s.‘a.w) biasanya memberi makan sejumlah besar tetamu dari bekalan yang sedikit dalam beberapa kejadian, dan ia dianggap sebagai suatu mu‘jizat dan bukti perutusannya. Namun begitu, hadith ini secara khusus merupakan ciptaan Abu Hurairah sebagai suatu cara untuk memberikan sumbangan untuk kepentingan Bani Umaiyyah dengan mengada-adakan kegemparan tentang pembunuhan ‘Uthman dengan cara memperlihatkan pakaiannya yang bersalut darah dan jari jemari tangan isterinya yang terpotong, dan dengan cara itu, menyebabkan orang ramai menangisi dan meratapi kematiannya.

    Abu Hurairah kelihatan memiliki sebuah bekas yang jauh lebih besar daripada mizwad (bekas bekalan)nya, yang dengannya dia dapat mengeluarkan hadith dalam apa jua corak, teks atau bentuk yang dia sukai, bila saja dia kehendaki dan dalam keadaan bagaimana dia citrakan karena kerapkali apabila dia meriwayatkan sesuatu dia ditanya: “ Adakah kamu mendengarnya sendiri dari Nabi (s.‘a.w)?” dan dia akan menjawab: “ Tidak, tetapi ia adalah dari bekas Abu Hurairah.” Sudah jelas ketakjuban Abu Hurairah adalah terlalu banyak untuk dapat dimuatkan dalam satu jilid

Kekufuran melampaui batas yang Allah ampuni postheadericon

Muslim  menceritakan dari Mu‘ammar yang mengatakan bahwa al-Zuhri berkata kepadanya:

“ Izinkan aku menceritakan dua buah hadith yang pelik kepadamu?  Hamid bin ‘Abd al-Rahman menceritakan dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa Nabi (s.‘a.w) berkata: Seorang lelaki melakukan perbuatan yang keterlaluan terhadap dirinya. Apabila maut mendatanginya dia meninggalkan wasiat kepada anak-anaknya: “ Apabila aku mati, bakarlah aku, kemudian hancurkankan debu-debuku, dan lepaskannya ke udara di lautan lepas, karena demi Allah, sekiranya Tuhanku dapat mengambilku Dia akan memberikan hukuman yang Dia tidak pernah berikan kepada sesiapa.” Mereka pun melakukannya berdasarkan wasiat itu. Kemudian Allah memerintahkan bumi: “ Keluarkan, apa yang kamu ada,” dan di situ dia berdiri. Allah kemudian berkata kepadanya: “ Apa yang membuatkanmu melakukan apa yang telah kamu lakukan itu?” Dia menjawab: “ Kemurkaanmu, Ya Tuhan.”  Lalu Allah mengampuninya.”

    Al-Zuhri juga turut mengatakan bahwa Hamid bin ‘Abd al-Rahman menceritakan dari Abu Hurairah bahwa Nabi (s.‘a.w) berkata:

“ Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang diikatkannya dengan tidak diberikan makanan dan tidak pula dibenarkan mencari makanannya sendiri dari serangga di bumi.”

Kritikan

    Mengenai wanita dengan kucing itu, sekiranya dia seorang mu’minah, justeru seperti kata ‘A’isyah ketika mendengar cerita ini, dia lebih bernilai di hadapan Allah untuk dihukum dengan api neraka karena seekor kucing. Sekiranya  dia seorang kafir, dia akan dihukum karena itu.

    Mengenai lelaki yang melakukan perbuatan keterlaluan, menurut riwayat hadith ini, tidak melayakkan diberikan pengampunan karena dia bukan saja tetap dalam keadaan kufur sepanjang hidupnya bahkan pada masa matinya juga tetap bersikap ingkar dan berputus asa terhadap rahmat Allah dan cuba  meletakkan dirinya yang berdasarkan fikirannya, kekuasaan Allah tidak akan dapat mencapainya, walaupun kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu . Oleh sebab itulah, dia membuat wasiat yang amat buruk yang membayangkan sifat putus asa dari rahmat Allah  dan penafian kekuasaan Allah. Sudah pasti, orang kafir sepertinya tidak patut dan tidak layak sama sekali mendapat pengampunan  menurut persepakatan pendapat.

    Bahkan sekiranya diandaikan bahwa wasiat orang yang berdosa itu menjadi penyebab kepada pengampunan, adalah tidak mungkin bahwa Nabi (s.‘a.w)  akan menceritakannya tanpa memberikan peringatan berbentuk larangan melakukan perbuatan seperti itu, karena sekiranya dia meriwayatkannya tanpa arahan seperti itu, sebagaimana yang Abu Hurairah tunjukkan baginda lakukan, orang mu’min akan tersesat, dan ini dengan jelas menunjukkan bahwa mustahil ia  dikatakan perbuatan Nabi (s.‘a.w).

Cerita khayalan dengan tujuan yang sama seperti yang terdahulu postheadericon

Al-Bukhari  menceritakan dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Seorang lelaki sedang berjalan di jalanan apabila dia merasa terlalu dahaga. Dia melintasi sebuah telaga, turun ke dalamnya, minum dan keluar darinya. Kemudian dia terlihat seekor anjing tercungap-cungap dan menjilat tanah karena dahaga. Lalu dia turun ke dalam telaga dan mengisi kasutnya dengan air dan membawanya ke atas dengan mulut. Kemudian dia memberi minum anjing itu. Allah menghargai perbuatannya dan mengampuni dosa-dosanya.”

Kritikan

    Cerita ini dan cerita sebelumnya, kedua-duanya adalah cerita dongeng dan khayalan belaka yang dihasilkan oleh Abu Hurairah untuk menunjukkan akibat baik dengan melakukan perbuatan yang baik dan sifat mengasihani dan menggalakkan amalan berbuat baik dan berakhlak mulia.

Cerita khayalan kelima menunjukkan kebaikan berbuat baik postheadericon

Al-Bukhari  menceritakan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Allah mengampuni perempuan pelacur yang melintasi seekor anjing yang berdiri di tepi sebuah lubang (berair) dalam keadaan dahaga yang amat sangat. Lalu dia menanggalkan kasutnya, mengikatkannya dengan kain penutup muka dan menimba air dengannya dan memberi anjing itu minum. Oleh karena itu, Allah mengampuninya sebagai balasan.”

Cerita khayalan keempat menunjukkan akibat penganiayaan yang buruk postheadericon

Al-Bukhari  dan Muslim  telah menceritakan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Seorang wanita terpaksa masuk neraka karena seekor kucing yang diikatkannya dan tidak diberi makan dan tidak dibenarkan pula makan serangga-serangga di bumi.”

Kritikan

Hadith ini dinafikan ‘A’isyah, karena apabila dia dapat tahu mengenainya, dia pun berkata: “ Seorang mu’min lebih bernilai di hadapan Allah berbanding perkara tersebut hingga Dia boleh menghukumnya karena seekor kucing. Oleh itu, sekiranya kamu meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) kamu harus memberikan perhatian apa yang kamu ceritakan.”

Jelaslah ini juga merupakan cerita khayalan yang menerusinya dia cuba menunjukkan akibat buruk melakukan penganiayaan dan layanan yang tidak baik.

. Dongeng ketiga tentang akibat baik mensyukuri nikmat dan akibat buruk menafikannya postheadericon

Al-Bukhari  menceritakan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Terdapat tiga (3) orang dari Bani Israil, seorang penghidap kusta, seorang berkepala botak dan seorang buta, yang Allah bertujuan untuk menguji. Lalu Dia mengutuskan malaikat kepada mereka. Dia datang kepada si penghidap kusta dan berkata: “ Apakah perkara yang paling kamu ingini?” Katanya:  Orang menganggapku kotor. Oleh itu, aku ingin mempunyai warna dan kulit yang cantik. Lalu malaikat menggosoknya dan berlalu pergi. Dia dikurniakan warna dan kulit yang cantik. Kemudian dia berkata: Apakah sesuatu yang amat menghendaki? Jawabnya: “Unta.” Lalu dia memberikannya seekor unta yang jinak, sambil berkata: “Moga Allah merahmatimu dengannya.”

Kemudian dia (malaikat) pergi kepada orang yang berkepala botak dan berkata: “ Apakah yang sangat inginkan? Katanya: “ Rambut yang cantik karena orang ramai memandangku jijik. Dia pun menggosoknya dengan memberikannya rambut yang cantik. Kemudian katanya: Apakah pula sesuatu yang kamu ingin miliki? Katanya: “ Seekor lembu.” Lalu dia mengurniakannya seorang lembu yang bunting dan berkata: “ Moga Allah memberkatimu dengannya.”

Kemudian dia (malaikat) pergi kepada si buta dan berkata: “ Apakah yang kamu sangat inginkan? Dia berkata: “ Aku harap Allah mengembalikan penglihatanku.” Lalu dia menyapunya dan Allah mengembalikan penglihatan kepadanya. Kemudian dia berkata: “ Apakah sesuatu yang ingin kamu miliki?” Katanya: “ Kambing.” Lalu, dia memberikannya seekor kambing yang hampir melahirkan anak. Justeru kedua-dua binatang itu membiak manakala yang ini juga turut demikian. Seorang mempunyai sekawan unta, yang lain pula lembu manakala yang ketiga kambing.

Kemudian malaikat datang kepada si penghidap kusta dalam keadaan asalnya dan berkata kepadanya: Aku seorang yang amat memerlukan sesuatu. Sumber pendapatanku semakin merosot sepanjang perjalananku dan hari ini tiada sesiapa yang dapat aku hampiri kecuali Allah dan kamu. Aku memohon kepadamu atas nama Allah yang menganugerahimu warna kulit yang cantik dan bersih dan unta-unta yang kamu miliki agar dapat membantuku dalam perjalananku. Dia membalas: Ada banyak permintaan. Katanya: Aku kenal kamu. Bukankah kamu seorang penghidap kusta? Orang ramai memandangmu kotor jijik dan mengenepikanmu. Kemudian Allah memberikanmu semua ini. Katanya: Aku warisinya dari orang tuaku. Katanya: Sekiranya kamu berdusta, Allah akan jadikanmu seperti keadaanmu sebelumnya.”

Kemudian dia mendekati si kepala botak dalam keadaan asalnya dan berkata kepadanya sebagaimana yang dikatakan kepada orang yang pertama dan dia memberikan jawapan yang hampir sama lalu akhirnya dia mengungkapkan kata-kata: Sekiranya kamu berdusta, Allah akan menjadikanmu seperti keadaanmu sebelumnya.”

Lalu dia menghampiri si buta dalam keadaan asalnya dan berkata: Aku seorang peminta sedekah dan musafir. Sumberku sudah semakin merosot sepanjang perjalanan dan tiada orang yang dapat aku dekati kecuali Allah dan kamu. Aku mohon kepadamu dengan nama Allah, yang mengembalikan penglihatanmu, seekor kambing yang dengannya aku dapat akhiri perjalanan ini. Katanya: Aku buta tetapi Allah mengembalikan penglihatanku. Aku tidak punya apa-apa. Dia menjadikanku kaya. Lalu kamu ambillah apa saja yang kamu kehendaki. Demi Allah, aku tidak akan menahanmu dengan sesuatu yang aku ambil atas nama Allah. Dia kemudian berkata: Ambillah apa saja yang kamu ada, karena aku datang untuk menguji kamu semua. Allah gembira dengan kamu dan murka dengan kedua-dua sahabatmu.”

Kritikan

Jelaslah ini merupakan cerita khayalan yang direka oleh Abu Hurairah dari sekian banyak cerita yang pada masa  ini ditulis dan dipopularkan, dan ia bertujuan untuk menggambarkan akibat bersyukur atas kurniaan Allah dan juga akibat mengkufuri nikmat-Nya

Sebuah lagi cerita khayalan tentang kebaikan memenuhi sumpah postheadericon

Al-Bukhari  telah menceritakan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w) bahwa:

“ Seorang lelaki dari Bani Isra’il meminta seorang yang lain dari Bani Isra’il supaya meminjamkannya 1000 dinar.  Dia memintanya membawakan saksi yang akan mempersaksikannya. Dijawab: Cukuplah Allah menjadi saksi. Kemudian katanya: Dalam hal ini, kamu bawalah seorang penjamin.” Dia berkata: “ Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Katanya: “ Kamu benar,” lalu dia meminjamkannya untuk suatu jangkamasa tertentu. Orang itu menuju ke laut lepas dan menjalankan urusniaganya. Kemudian dia mencari alat pengangkut untuk membawanya sampai kepada orang itu pada masa yang dijanjikan, tetapi dia menjumpai alat pengangkut itu. Lalu dia mengambil kayu panjang dengan membuat suatu lubang di dalamnya, meletakkan 1000 dinar ke dalamnya bersama-sama sekeping nota untuk sahabatnya dan selepas menutupnya, dia membawanya ke laut. Lantas, dia melaungkan: “ Ya Allah, pastinya Engkau mengetahui  bahwa aku meminta si-polan dan si-polan meminjamkanku 1000 dinar. Dia memintaku mendapatkan penjamin dan aku berkata: Memadailah Allah sebagai penjamin lalu dia bersetuju. Kemudian dia memintaku mendatangkan saksi dan aku berkata: Memadailah Allah sebagai saksi dan dia juga bersetuju. Kemudian, aku cuba dapatkan alat pembawa untuk mengembalikan wangnya tetapi aku tidak mendapatinya, lalu aku sekarang ini menyerahkannya kepadamu.”  Lantaran itu, dia membuangkannya ke dalam laut sehingga ia tidak lagi kelihatan, dan dia pula kembali. Sekarang, orang yang meminjamkan wang itu kepada lelaki tersebut sedang mencari alat pengangkut yang telah lama hilang. Ketika dia terjumpa alat pengangkut itu, yang mengandungi wangnya, dia membawanya pulang kepada kaum keluarganya, malangnya apabila dia memotongnya dia menjumpai duit dan sekeping nota.   


Kritikan

Suatu yang pasti adalah ia terlalu jauh dari kebenaran sama sekali untuk dipercayai. Membuang beribu dinar ke laut tidak dapat diterima dalam Islam dan tidak dapat diterima akal, dan tidak juga dapat melepaskan peminjam itu dari tanggungan untuk membayar balik hutang sekiranya duit tidak sampai kepada pemberi pinjaman. Logik akal menunjukkan ia adalah perbuatan bodoh atau gila dan menganggapkannya tidak patut berlaku sama sekali.  Walaupu sekiranya ia diandaikan insiden itu sebenarnya berlaku di kalangan Bani Isra’il atau sesiapa jua, Nabi (s.‘a.w)  tentulah tidak akan menceritakannya tanpa sebarang peringatan agar tidak melakukan, karena sekiranya baginda menceritakannya tanpa sebarang peringatan – seperti versi riwayat itu menyatakan – umatnya pasti terperangkap dalam kesalahan, dan perbuatan mengabaikannya bagi Nabi (s.‘a.w) merupakan sesuatu yang tidak mungkin berlaku sama sekali.

    Tambahan pula, Abu Hurairah merekacipta cerita khayalan dengan tujuan supaya memenuhi janji dan mengaitkannya kepada Nabi (s.‘a.w) menjelaskan perihal dirinya sendiri.

Cerita dongeng bermatlamat untuk memperlihatkan kebaikan bersaqadah postheadericon

Muslim   telah menyampaikan cerita dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Nabi (s.‘a.w):

“ Ada seorang lelaki di sebuah tanah yang tandus. Dia terdengar suara di awan mengatakan: Aku akan menyirami taman si-polan dan si-polan.” Kemudian awan itu berlalu dan menurunkan air ke atas taman itu sementara orang itu berdiri di sana menyirami air dengan penyodoknya. Dia berkata kepadanya: Wahai hamba Allah, siapakah namamu? Dia memberitahu nama si-polan dan si-polan. Ia adalah nama yang sama seperti yang didengarinya dalam awan. Kemudian ditanya: Kenapakah kamu bertanya namaku.” Katanya: “ Ini karena aku terdengar suatu suara di awan yang menyebutkan pemilik air itu. Aku diberitahu: “ Aku akan mengairi taman si-polan dan si-polan, dengan menyebut namamu. Lalu, apakah yang kamu hendaklah lakukan mengenainya? Jawabnya: Oleh karena kamu telah memberitahuku semua ini, aku akan perhatikan apa hasilnya dan kemudian mensadaqahkan 1/3 darinya.”

Kritikan

    Ini adalah sesuatu kejadian yang mustahil berlaku karena ia berlawanan dengan tabiat semulajadi, tetapi Abu Hurairah telah mengemukakan khayalannya dengan matlamat untuk menjelaskan kebaikan bersadaqah dan telah mengaitkannya kepada Nabi (s.‘a.w) mengikut kehendaknya tatkala menceritakan cerita-cerita khayalannya. Kita hanya dapat menyebutkan La hawla wa la quwwata illa bi-Llahi’l ‘aliyyi’l-‘azim.    

Hamba Abu Hurairah semasa penghijrahannya postheadericon

Al-Bukhari  telah menyampaikan riwayat menerusi sumber-sumbernya sampai kepada Abu Hurairah bahwa dia menceritakan:

“ Apabila aku menuju kepada Nabi (s.‘a.w), aku merasakan dalam perjalanan itu: “ Malam yang panjang dan menjemukan, walaupun aku terselamat dari tempat kekufuran.” Katanya lagi: Semasa dalam perjalanan, seorang hambaku lari.. Kemudian aku sampai kepada Nabi (s.‘a.w) dan memberikan salam kepadanya. Ketika aku bersama-sama baginda, hamba itu muncul. Nabi (s.‘a.w.) berkata kepadaku: Wahai Abu Hurairah, inikah hambamu? Aku berkata: Dia kini bebas demi Allah, lalu aku membebaskannya.

    Sudah pasti Abu Hurairah membingungkan pemahaman orang ramai ketika dia cuba mengatakan bahwa dia dibesarkan sebagai anak yatim, berpindah sebagai seorang peminta sedekah, bekerja dengan lelaki dan wanita tersebut untuk mendapatkan makanan untuk mengalas perutnya, biasa mengendalikan tunggangan mereka ketika mereka menunggang  dan menurunkan mereka ketika mereka hendak turun, dan kemudian pada masa yang sama dia mendakwa memiliki hamba yang dibebaskannya atas nama Allah. Kelihatan kedudukannya adalah bahwa dia menceritakan  hadith ini sepanjang hari-hari terakhir dalam hidupnya ketika dia memperolehi layanan istimewa Marwan dan keluarga Abu Sufyan, hingga menyebabkannya terlupa keadaannya sendiri semasa hari-hari perpindahannya atau sebelum ataupun selepas itu ketika dia tidak mempunyai apa-apa, memberikan khidmat kepada orang ramai untuk mengisi perutnya dan bukan pula seorang yang dikenali ramai.

Penerimaan Islam oleh Ibu Abu Hurairah dengan doa Nabi (s.‘a.w) dan juga doa Nabi (s.‘a.w) agar kedua-duanya dicintai orang-orang mu’min dan orang-orang mu’min pula dicintai kedua-duanya postheadericon

Muslim  telah menyampaikan cerita menerusi sumbernya yang diakui berakhir dengan Abu Hurairah bahwa dia menceritakan:

“ Aku biasanya mendakwah ibuku kepada Islam pada ketika dia masih seorang kafir. Pada suatu hari ketika aku mengajaknya kepadanya (Islam), dia menyebutkan kejahatan dan keburukan Nabi (s.‘a.w)  kepadaku. Lalu aku datang kepada Nabi (s.‘a.w) sambil menangis dan mengatakan kepadanya: Wahai Rasulullah (s.‘a.w), ibuku telah menyebutkan keburukanmu. Tolonglah doakan kepada Allah agar memberikannya petunjuk.” Nabi (s.‘a.w) lalu berdoa: Ya Allah! Berikanlah petunjuk kepada ibu Abu Hurairah. Justeru, aku merasa sangat gembira. Ketika aku sampai ke muka pintu aku dapatinya terbuka. Apabila ibuku mendengar bunyi langkahku dia menjemputku masuk ke rumah sementara itu, aku terdengar bunyi titisan air. Dia sedang mandi, dan memakai pakaiannya dan dengan segera memakai hijabnya. Lalu dia membuka pintu dan berkata kepadaku: Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan juga aku bersaksi bahwa Muhammad (s.‘a.w)  ialah Rasulullah dan Nabi-Nya. Aku pun kembali  kepada Rasulullah (s.‘a.w), sambil menangis kesukaan lalu berkata kepadanya: Wahai Rasulullah (s.‘a.w)! Inilah berita yang menggembirakan. Allah telah memperkenankan doamu dan telah memberikan petunjuk kepada ibuku.” Justeru itu, Nabi (s. ‘a.w) memuji-muji Allah dan mengatakan: Ini berita baik. Aku kemudian berkata kepadanya: Wahai Nabi (s.‘a.w), tolonglah mohon doa kepada Allah agar Dia menjadikanku dan ibuku dikasihi orang-orang mu’min dan menjadikan mereka dicintai oleh kami.” Nabi (s.‘a.w) kemudian berdoa: Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini dan ibunya dikasihi hamba-hamba-Mu yang beriman dan jadikanlah orang-orang mu’min dikasihi oelh mereka.” Dengan demikian, tiada orang mu’min yang mendengar dan melihatku, tidak mencintaiku.

Kritikan

Hadith ini terdedah kepada beberapa tentangan:

Pertama: Hadith ini tidak diriwayatkan terus dari Nabi  (s.‘a.w) menerusi mana-mana perawi lain kecuali Abu Hurairah, yang menjadi satu-satunya perawi hadith ini. Ini menjadi tanda kelemahannya.

Kedua: Dikatakan bahwa ibu Abu Hurairah masih kafir dan enggan menerima Islam. Dia cenderung kepada Islam hanya apabila Nabi (s.‘a.w) berdoa untuknya. Persoalan yang timbul adalah apakah motif atau tujuannya berhijrah dari Yaman yang merupakan tempat lahir dan kesukaannya  ke kota Madinah yang menjadi pusat Islam, kediaman Nabi (s.‘a.w) dan tempat yang menjadi pusat sokongannya. Bukankah dia dan tidak ragu-ragu lagi dia masih berada di Yaman berterusan menyembah berhala bersama-sama dengan orang lain di tempat itu umumnya? Apakah jawapan kepada persoalan ini dapat dikemukakan oleh para peminat Abu Hurairah berikan? Pastinya tidak ada, karena mereka tidak dapat menafikan fakta-fakta sejarah.

Lebih-lebih lagi, tiada dalam mana-mana kitab sejarah hadith menyebutkan ibu Abu Hurairah kecuali sekali ketika Khalifah ‘Umar, melucutkan jawatan Abu Hurairah dari Bahrain, telah berkata kepadanya: “ Ibumu Umaimah tidak memberikanmu sebarang kerja kecuali memberi makan kaldai.” Rujukan dalam bentuk tunggal menyebutkan namanya sekali saja dan tidak ada lagi yang lain.

Ketiga: Diketahui umum bahwa Abu Hurairah merupakan salah seorang ahli Suffah yang papa kedana mencari sisa-sisa makanan di jalanan untuk menyelamatkan nyawanya. Dia sendiri menceritakan bahwa dia biasanya berada di ruang antara mimbar Nabi (s.‘a.w) dan kediaman ‘A’isyah. Orang ramai melintasinya sambil meletakkan kaki mereka ke atasnya dengan menganggapkannya orang gila. Ia sebenarnya bukanlah karena gila tetapi karena kelaparan yang menyebabkannya demikian. Abu Hurairah tetap berada di Suffah – suatu tempat di masjid Nabi (s.‘a.w) di Madinah. Bagaimana mungkin dia memiliki sebuah rumah miliknya sendiri di Madinah seperti yang disebutkan dalam hadith ini?

Keempat: Sekiranya semua yang Abu Hurairah ceritakan dalam hadith ini benar, ia boleh dianggap suatu tanda kenabian dan lambang Islam bahwa Allah dengan segera memperkenankan doa Nabi-Nya (s.‘a.w) dengan menyiapkan petunjuk kepada ibu Abu Hurairah sedangkan wanita ini yang masih berada dalam keadaan kufur dan sesat berubah kepada mu’minah yang beriman, bertaqwa dan lengkap dipenuhi peranan dan ajaran syariah Islam. Diketahui umum juga bahwa para sahabat sama ada banyak atau sedikit telah meriwayatkan semua tanda besar dan lambing-lambang Islam dan kenabian. Apakah pula yang dapat menghalang mereka dari menceritakan peristiwa ini, sekiranya ia benar. Hakikatnya bagaimanapun menunjukkan tiada seorang pun menceritakannya melainkan Abu Hurairah seperti seolah-olah tiada seorang pun pernah mendengar atau melihat ibunya kecuali dirinya.

Kelima: Sekiranya kenyataan Abu Hurairah benar bahwa Allah menjadikannya dan ibunya dicintai semua orang mu’min dan menjadikan orang-orang mu’min dicintai mereka berdua, lalu mengapakah ahli kaum kerabat Nabi (s.‘a.w) yaitu Ahl al-Baitnya yang merupakan ketua sekalian mu’min dan 12 orang Imam suci dari kalangan mereka memandang rendah kedudukannya, menolak hadith-hadith yang disampaikan olehnya dan tidak memberikan perhatian atau penekanan langsung dengan dia sendiri adalah sebuah parti, sehinggakan Amir al-Mu’minin ‘Ali (‘a.s) berkata:

“ Sesungguhnya orang yang mengadakan pendustaan paling banyak  (atau katanya manusia yang paling banyak berbohong) terhadap Rasulullah (s.‘a.w) ialah Abu Hurairah al-Dusi.”  
   
    Selanjutnya, sekiranya Abu Hurairah dicintai orang-orang mu’min dan dia mencintai orang-orang mu’min, kenapa Khalifah ‘Umar memanggilnya pada ketika melucutkannya dari Bahrain: Wahai musuh Allah dan musuh al-Qur’an, kamu telah menyalahgunakan harta Allah..” Bagaimana musuh Allah dan musuh al-Qur’an menjadi orang yang dikasihi atau pencinta semua orang mu’min, dan semasa zaman Nabi (s.‘a.w). ‘Umar telah memukulnya di bahagian dadanya dan dia jatuh tidak sedarkan diri, manakala selepas Nabi (s.‘a.w), dia memukulnya dengan tali sebat sehingga berdarah di  bahagian belakang badannya dan mengambil balik 1000 dirham yang telah disalahgunakan dari harta umat Islam (yaitu harta awam) dan menyimpannya kembali dalam perbendaharaan. Kemudian, kali ketiga dia memukulnya dengan berkata: Wahai Abu Hurairah, kamu telah menghubungkan terlalu banyak hadith kepada Nabi (s.‘a.w) dan aku akan memerangimu karena kamu berdusta terhadap Rasulullah (s.‘a.w).” Pernah pada satu masa, dia berkata kepadanya: Lebih baik kamu tinggalkan menceritakan hadith-hadith atau jika tidak, aku akan membuangmu ke bumi Dus (ard Dus) atau ke tanah monyet (bi-ard al-qirdah). 

    Terdapat pertelingkahan yang hampir sama antaranya dengan yang lain seperti ‘Abdullah bin al-‘Abbas, ‘A’isyah dan seumpamanya yang tidak selaras dengan konsepsi cinta antaranya dengan yang lain.

    Memang, sepanjang beberapa tahun yang akhir cinta wujud di antaranya dengan ahli-ahli keluarga ‘Amru bin al-‘As, keluarga Abu Mu‘it dan keluarga Abu Sufyan. Mereka tertarik untuk menyayanginya karena hadith-hadithnya yang banyak menyokong kekuasaan palsu mereka manakala dia pula tertarik menyayangi mereka karena keistimewaan yang mereka  tunjukkan kepadanya di mana mereka mengeluarkannya dari keadaan tidak dikenali  kepada kedudukan yang masyhur dan terkenal. Contohnya, Marwan bin Hakam menjadikannya sebagai timbalannya di Madinah ketika dia tiada di sana. Seterusnya,  Marwan inilah yang mengahwinkan Abu Hurairah dengan Busra binti Ghazwan. Namun bagi keluarga Abu al-‘As dan Abu Sufyan, Abu Hurairah tidak dapat memberikan perhatian kepadanya. Ketika Abu Hurairah menghidapi penyakit yang membawa maut, Marwan merawatnya dengan penuh penghormatan dan perhatian terhadapnya. Ketika dia cuba untuk mendapatkan maklumat tentang keadaan kesihatannya, dia akan mendoakan penyakitnya pulih. Dia juga mengunjunginya pada hari-hari terakhirnya. Ketika dia meninggalkannya dan berlalu, seorang lelaki mengikutinya  dan memberitahunya bahwa Abu Hurairah telah mati. Ketika jenazahnya diusung, Marwan berada di hadapan yang lain sementara anak-anak ‘Uthman sedang mengusung keranda sehingga mereka sampai ke al-Baqi‘. Di sana al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan memimpin salat jenazah. Kemudian dia mengutuskan berita kematiannya kepada sepupunya, Mu‘awiyah yang mengarahkan agar penggantinya hendaklah dikurniakan 10 000 dirham dan agar mereka dilayani dengan penuh kebaikan.  Contoh-contoh ini menunjukkan perhatian istimewa mereka kepadanya. Adakah mereka semua orang-orang mu’min yang menurut Abu Hurairah, dijadikan untuk mencintainya dan dia pula mencintai mereka? Apalah malangnya!